Sabtu, 19 Mei 2018

PERANG SILENT MAJORITY

Hoax Bom Surabaya
PNS sebar Hoax Bom Surabaya

Seorang pilot Garuda diberhentikan karena mengunggah postingan yang membela teroris..

Seorang kepala sekolah juga diberhentikan atas kasus yang sama. Bahkan sebuah kampus terkenal memecat dekan dan beberapa dosennya karena terlibat HTI.

Dan semua itu karena peran besar Media Sosial..

Saya tersenyum mengingat beberapa tahun lalu, ketika awal perang Suriah, menulis di media sosial tentang bahayanya paham Wahabi, ISIS dan bagaimana ideologi mereka merasuk ke dalam elemen pemerintahan dan masyarakat.

Saya dianggap kafir waktu itu, bahkan dijauhi teman dan saudara karena dibilang sudah "memecah belah" Islam.

Dulu seperti sendirian berperang menghadapi paham berbahaya itu. Beberapa teman juga mengalami hal yang sama, tetapi tidak pernah berhenti kami menulis kegelisahan yang ada di dada. Terus terang itu hal yang sangat melelahkan.

Dihujat sana sini. Dimaki. Diancam dibunuh. Darah halal. Adalah bahasa sehari-hari yang kami terima karena mengingatkan tentang bahayanya ideologi itu ada di negeri ini.

Sekarang lega rasanya melihat silent majority bergerak dengan kekuatan media sosial yang ada. Kekuatan untuk mem-viralkan postingan yang bernada mengancam bahkam berpotensi memecah belah negeri ini.

Lega rasanya melihat kekuatan anak bangsa bersatu karena tidak rela keutuhan negeri ini terkoyak. Musuh yang dulu sembunyi di balik topeng agama, mulai ditelanjangi satu persatu wajahnya. Mereka tidak bisa sembunyi, jejak digital mereka bicara..

Bahkan Kemenag sudah mengeluarkan daftar 200 ustad yang mendapat rekomendasi. Baguslah, nama-nama ustad jadi-jadian banyak yang tidak masuk dalam daftar itu, membuktikan Kemenag juga sudah mulai waspada.

Yang menarik lagi, beberapa BUMN yang kemarin merilis daftar nama penceramah Ramadhan, sudah mengganti daftarnya dengan penceramah yang lebih toleran.

Semua karena tekanan media sosial..

Kita bergerak lebih maju dari tahun 2013 dulu. Dan saya yakin, kita akan jauh lebih maju sekian tahun ke depan..

Inilah perlawanan. Perjuangan. Menjaga negeri dari rongrongan ideologi yang merusak negeri-negeri Timur Tengah. Dulu berperang pakai senapan. Sekarang cukup maen "Viralkan !!".

Merinding rasanya melihat ombak besar kebaikan datang bergelombang menghantam keberadaan radikalis yang kemarin menguasai media sosial.

Puasa-puasa gini memang mata agak terganggu. Tadi lihat oli bekas berasa lihat kopi item panas. Mau diseruput, untung belum bedug..

Nasebb..