Senin, 04 Juni 2018

ADU KUAT DI MEDIA SOSIAL

Medsos
Perang Opini

Media sosial sudah mengambil banyak peran dalam arus informasi kita. Arus informasi yang dulu dikuasai oleh media mainstream, sudah banyak diambil alih oleh "jurnalis-jurnalis" jalanan yang siap memberitakan banyak hal.

Media mainstream digunakan hanya sebagai media pembanding saja, bukan lagi rujukan utama, karena masyarakat sudah tahu bahwa berita di media mainstream banyak dipengaruhi oleh pemilik media untuk mengarahkan informasi sesuai kepentingan kelompoknya.

Peran media sosial sekarang sudah bukan lagi sebagai pemberi informasi, tetapi lebih dari itu, ia menjadi semacam pembentuk opini. Di media sosial tidak berlaku hukum "siapa yang benar, dia yang menang", tetapi "siapa yang kuat (dalam membentuk opini), dialah yang menang".

Karena itu ada beberapa orang yang membangun kekuatan opini melalui tagar supaya menjadi trending topik dan mencuri perhatian untuk dibahas lebih dalam.

Mereka yang mempunyai pengaruh di media sosial disebut sebagai influencer. Sedangkan ada istilah untuk mereka yang dibayar supaya menulis atau memviralkan sesuatu dengan nama buzzer.

Influencer bisa tidak mendapat penghasilan dari media sosial, sebab ia menulis karena "INGIN" menulis. Kalau buzzer dia menulis karena "HARUS" menulis. Disana bedanya..

Kekuatan media sosial yang digunakan sebagai gerakan politik, berawal dari kejadian Arab Spring.

Tercatat "Revolusi Tunisia" di tahun 2010 berhasil menggulingkan rezim Ben Ali, karena masyarakat tergerak dengan aksi bunuh diri seorang pedagang sayur yang dagangannya dijarah aparat.

Kemudian tahun 2011, Mesir bergolak dengan berkumpulnya ratusan ribu orang di Thahrir Square menuntut Hosni Mubarak turun. Semua komunikasi dan informasi untuk aksi di Mesir itu menggunakan Facebook dan Twitter.

Bisa dibilang Arab Spring lahir di masa media sosial atau Arab Spring menggunakan media sosial sebagai alat. Dari peristiwa jatuhnya banyak negara dengan menggunakan media sosial, bisa dilihat bahwa media sosial efektif dijadikan sebagai alat propaganda..

Berdasarkan data Internet World Stat, pengguna Facebook di Indonesia mencapai 130 juta, dan berada di peringkat ketiga pengguna global sesudah India dan AS. Sedangkan di Twitter, Indonesia masuk sebagai negara pengguna terbanyak ke lima di dunia. (Bahan untuk wawancara dengan TV ABC sore nanti).