Senin, 11 Juni 2018

BURUKNYA KOMUNIKASI JOKOWI

Mudik
Baliho Mudik Lebaran

"Jokowi programnya bagus-bagus, tapi komunikasinya yang buruk.."

Keluh saya dalam sebuah diskusi di warung kopi. Diskusi malam hari dengan dentingan gelas berisi kopi dan tidak lupa tahu isi sebagai penyemangat. Malam ini cuaca cerah dan cenderung panas.

"Banyak program Jokowi yang tidak terkomunikasikan dengan baik. Para Menteri terpaku hanya memberikan informasi tapi tidak berkomunikasi. Padahal rakyat butuh komunikasi sebagai unsur kedekatan. Kalau informasi mereka bisa dapat darimana saja, tapi tidak punya pengaruh apa-apa.."

Saya mencoba menggambarkan apa yang dilakukan Jokowi saat dia menjadi Walikota Solo dan memindahkan pedagang barang bekas di Taman Banjarsari ke pasar yang baru dibangunnya..

"Jokowi sebenarnya melakukan penggusuran, meski dihaluskan dengan nama relokasi. Tapi bukan itu yang membuatnya terkenal, karena banyak kepala daerah yang punya program relokasi yang sama..

Menariknya Jokowi, ia membuat arak-arakan pada saat relokasi itu dengan gaya Keraton. Ia tidak sibuk menyampaikan informasi dengan berbagai alasan kenapa pedagang itu dipindah dari Taman ke Pasar. Ia juga tidak sibuk dengan informasi berupa angka-angka yang membuat masyarakat pusing karena ketidakmampuan mencerna..

Jokowi membangun komunikasi dengan gaya baru. Relokasi yang selalu diartikan negatif, dirubahnya dengan sudut pandang yang berbeda. Yang terjadi, rakyat melihat arak-arakan itu sebagai karnaval bukan penggusuran secara halus. Bukankah ini gaya komunikasi yang hebat ?

Para praktisi pemasaran pasti paham bagaimana cara memasarkan barang yag kurang diminati menjadi laku terbeli.

Contoh, asuransi. Siapa yang mau beli asuransi kematian disaat orang lain menghindar dari topik tentang mati ? Tapi gaya bahasa asuransi yang merubahnya menjadi "jiwa" dan mengajak orang berfikir tentang masa depan orang yang ditinggalkan, membuat asuransi kematian menjadi hal yang utama dalam kehidupan seseorang.

Itulah contoh gaya bahasa komunikasi, tanpa berbicara angka tetapi membangun emosi. Karena pada dasarnya orang banyak membeli sesuatu bukan berdasarkan fungsi, tetapi letak kekuatannya ada di pembangunan emosi.."

Aku mengambil tahu isi yang tinggal satu biji. Aku tahu temanku mengincarnya. Daripada habis dilahapnya, mending kuserobot duluan. Kulihat temanku kecewa berat karena dia dalam kondisi rasa lapar yang puncak-puncaknya.

"Lihat saja sekarang, banyak program Jokowi yang bagus-bagus seperti KIP, KIS sampai bagi-bagi sertifikat. Tapi sebagian besar hanya berupa informasi tanpa sebuah agenda besar membangun komunikasi berdasarkan emosi kenapa warga membutuhkan itu ?

Akhirnya program-program bagus itu banyak tertelan oleh narasi lawan politiknya yang selalu membangun narasi ketakutan, takut akan aseng, takut akan tenaga kerja asing, takut bangkitnya PKI dan segala macam.."

"Kenapa bisa begitu ya ?" Tanya seorang teman yang tertarik melihat sudut pandang berfikirku..

Kuseruput kopiku yang masih panas dan hitam sehitam hati temanku yang tidak dapat tahu isi itu..

"Karena proses komunikasinya diserahkan pada birokrat yang tidak paham bagaimana berkomunikasi yang benar.

Seharusnya pemerintahan Jokowi menganggarkan dana untuk membangun komunikasi program-programnya kepada masyarakat dengan menyewa pakar dan team komunikasi yang benar, para praktisi yang memang sehari-harinya berkecimpung di bidang periklanan untuk membangun cerita dibalik program yang diluncurkan. Apa, kenapa, mengapa dan tujuannya kemana..

Itu penting supaya masyarakat bisa mendapat cerita dari sudut pandang yang berbeda, bukan hanya dicekoki angka-angka pertumbuhan yang bikin rambut tambah beruban.."

Makin hangat pembicaraan.

"Coba perhatikan komunikasi perusahaan Gojek diawal-awal mereka berkibar. Mereka tidak berbicara tentang Ojek sebagai kendaraan, tapi fokus pada testimoni dari mereka yang mendapat lapangan pekerjaan..

Itu baru namanya cara berkomunikasi.

Seperti membangun jalan tol. Seharusnya pemerintah Jokowi bukan sibuk memamerkan jalan tol yang baru dibangun sebagai sarana mudik yang bersifat sementara, tapi mengedukasi apa dampak jangka panjang dari pembangunan infrastruktur dalam bentuk komunikasi yang indah.."

Temanku manggut-manggut sambil menarik janggutnya yang cuman selembar, mati segan tumbuhpun enggan..

Entah dia mengerti atau pikirannya sedang terintimidasi dengan ketakutan, "Ini siapa yang bayar ??"

Aku tak perduli. Seperti biasa kuserahkan pada dia yang ahli...

Seruput...