Sabtu, 23 Juni 2018

DEDI MULYADI, SANG PEJUANG TOLERANSI


Pilgub Jabar
Toleransi
Tiba-tiba ada sms masuk ke saya. 

"Saya Dedi Mulyadi"Katanya memperkenalkan diri. Saya ketawa, teman mana lagi ini yang bercanda.

Saya balas, "Dedi Mulyadi setahu saya Bupati. Ini Dedi Mulyadi yang mana ?". Jawabnya, "Iya, itu saya. Saya telepon ya.."

Wow, surprise juga saya mendapat sms dari seseorang yang selama ini saya baca perjalanan karirnya, terutama ketika ia harus melawan FPI di Purwakarta.

Buat saya, Kang Dedi Mulyadi dulu adalah simbol perlawanan melawan ormas berbaju agama. Belum ada satupun kepala daerah yang berani melawan mereka waktu itu, tetapi Dedi Mulyadi sudah mengalami banyak kisah.

Ia bahkan pernah berhadap-hadapan dengan gerombolan FPI waktu di TIM Jakarta. "Sungguh berani.." begitu gumam saya ketika membaca berita itu.

Diapun menelepon saya. Saya terima dan kami tertawa-tawa. Beliau ternyata juga suka membaca tulisan saya tentang toleransi dan kebhinekaan yang di Indonesia pada saat itu mahal harganya.

"Datang ke Purwakarta, ya. Kebetulan saya ada acara mengundang anak-anak lintas agama. Ini program yang sudah lama saya lakukan, supaya mereka saling mengenal bahwa perbedaan itu indah. Biar tidak sempit pemahamannya.." Katanya.

Sayapun menjanjikan akan datang..

Sesampai di Purwakarta, saya gagap karena baru pertama kali ke kota itu. Untung saja di jemput di suatu tempat sehingga gak perlu nyasar kemana-mana.

Dan ketika sampai di Pendopo Kabupaten, tiba-tiba mata saya berat karena menahan air yang menggenang.

Duhai, indahnya pemandangan di pendopo ketika seorang bhiksu, seorang Romo Katolik, seorang ustad duduk bersama dan saling ngobrol tanpa sekat. Di tengah ada seorang yang saya sangat kenal wajahnya di koran dan majalah, sang Bupati Dedi Mulyadi, tersenyum lebar..

Saya duduk agak menjauh dari pendopo hanya supaya bisa menyaksikan pemandangan itu lebih luas. Dan Dedi Mulyadi dengan cengkok sunda khasnya, bergurau sambil mengenalkan ke anak-anak SMP dan SMA lintas agama, kemudian mereka saling mengenal doa masing-masing agama.

Ah, sekian tahun saya menulis tentang kejamnya situasi Suriah dan kegelisahan saya akan pola yang mirip di Indonesia, tiba-tiba pemandangan sejuk bak surga terhampar di depan mata.

Ya, Tuhan..

Di Kabupaten kecil, jauh dari kota besar, ternyata nilai-nilai toleransi itu dijaga kuat. Dilindungi dan diperkenalkan. Dan anak-anak yang polos itu, saling mengenalkan diri, membuka cakrawala berfikir mereka menjadi luas, bahwa ada yang berbeda dari kita, tapi sejatinya kita sama..

Pada titik itulah, saya jatuh cinta pada Kang Dedi. Saya menamakan Purwakarta sebagai desa Ghalia. Desa Ghalia adalah desa kecil di komik Asterix, yang terus melawan ditengah kepungan kerajaan Roma. Seperti Purwakarta yang terus melawan ditengah kepungan gerombolan intoleran yang meluas di Jawa Barat.

"Jawa Barat butuh dia, bukan dia yang butuh Jawa Barat.." Begitu kata hatiku.

"Hanya dia yang bisa menyelesaikan masalah intoleransi di provinsi yang mendapat predikat tertinggi di bidang intoleran ini. Dia punya vaksinnya. Dia yang bisa menyembuhkannya.."

Harapan saya pun membuncah. Dan sesudah dua tahun saya bertemu Dedi Mulyadi, kami tetap akrab karena punya ideologi yang sama, yaitu kecintaan pada tanah dimana kita dilahirkan bersama.

Ah, kang Dedi..

Kapan kita ngopi lagi dan ceritakan semua mimpi yang kau rangkai tentang negeri ini ? Aku siap mendengarkan dan menuangkannya dengan indah dalam sebuah tulisan. Tulisan berjiwa yang merangkai kata dari seorang pejuang..

Salam hormatku untukmu selalu.