Jumat, 22 Juni 2018

EL CLASICO DI JATIM

Pilkada Serentak
Khofifah dan Gus Ipul

Pilkada Jatim memang lumayan membingungkan. Di nomer satu ada Khofifah Indar Parawansa, mantan Menteri Sosial di masa Gus Dur & Jokowi. Dua kali menjabat sebagai Menteri di dua kabinet yang berbeda, membuat ibu yang juga seorang GusDurian ini tidak bisa dianggap enteng dalam segi keilmuan.

Khofifah juga disebut-sebut sebagai "kunci" menangnya Jokowi di Pilpres 2014. Ketua umum muslimat NU ini mampu menyatukan suara NU dan santri di kalangan grass root. Khofifahlah kunci Jokowi mendekati pesantren-pesantren di Jawa Timur.

Rekam jejaknya jelas. Jokowi bahkan menyempatkan diri mampir ke rumahnya di Surabaya, menandakan kedekatan mereka. Dan kedekatan itu berlanjut dengan permintaan Jokowi supaya Khofifah menjadi Menterinya.

Sedangkan Gus Ipul pada Pilpres 2014 lalu, tidak mau dikatakan berpihak pada Jokowi. "Netral.." Katanya. Bisa jadi karena ia sungkan kepada pimpinannya Pakde Karwo, yang ada di Demokrat dan partai itu pendukung Prabowo.

Gus Ipul atau nama lengkapnya Saifullah Yusuf ini juga dulu mantan Menteri, tetapi di era SBY berkuasa. Ia menjadi Wakil Gubernur dua periode di Jawa Timur.

Pertarungan Gus Ipul dan Khofifah di tahun 2013, bisa dibilang pertarungan yang sangat ketat. Meski akhirnya dimenangkan Gus Ipul & Soekarwo, tapi kemenangan itu berlanjut sampai ke Mahkamah Konstitusi.

Dan kontroversi terus berlanjut...

Akil Mokhtar - mantan ketua MK yang ditangkap karena suap - buka2an, bahwa sebenarnya Khofifah yang menang Pilgub Jatim 2013 bukan Soekarwo. Sampai sekarang, peristiwa Pilgub Jatim 2013 masih menjadi misteri meski Soekarwo menang lagi.

Jadi bisa dibilang ini pertarungan el-clasico, pertarungan klasik.

Pertarungan sekarang lebih meruncing. "All Jokowi's final.." Begitu kata seorang teman.

Masuknya Puti dan PDIP di barisan Gus Ipul memperkuat anggapan bahwa jika mereka menang, Jokowi akan aman. Klaim yang sama juga dengan Khofifah, tetapi dengan rekam jejak yang sudah ada di Pilpres 2014.

"Dua-duanya bagus. Dua-duanya mendukung Jokowi. Lalu saya harus pilih yang mana ?"
"Ya terserah.. " Kata saya. "Memilih itu hak, dan pilih yang sesuai dengan nurani.."

"Kalau Bang Denny ?" Temanku melirik.

Haha, pertanyaan menjebak. Tapi okelah.

"Patokan saya cuman satu saja. Dimana PKS berpihak, saya akan pilih lawannya. Itu sudah jawaban.."

Saya tersenyum sambil seruput secangkir kopi. Memang enak kalau punya patokan, jadi tidak ragu-ragu lagi.