Senin, 04 Juni 2018

GENERASI IBNU MULJAM, MESIN PEMBUNUH DALAM ISLAM

Imam Ali
Ibnu Muljam pembunuh Imam Ali

Waktu itu hari ke 19 bulan Ramadhan. Pertanda subuh sudah dimulai. Seorang lelaki, sahabat sekaligus saudara Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib memasuki masjid. Ia melihat ada seorang yang masih tidur dengan mendekap dadanya, seakan ada yang disembunyikan.

Imam Ali lalu membangunkannya. "Ayo shalat.. " Katanya. Tetapi lelaki itu tidak bergerak.

Imam Ali lalu memulai shalat subuhnya sendiri. Dan lelaki yang tidur tadi perlahan bangun dari tidurnya sambil mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Ia lalu mengendap-endap memasuki masjid dan tampak olehnya Imam Ali sedang bersujud di rakaat pertamanya.

Lelaki itu kemudian berdiri mengangkang di depan Imam Ali yang sedang bersujud sambil memegang sebuah pedang besar yang telah diberi racun olehnya. Tepat ketika Imam Ali mengangkat kepalanya dari sujud, pedang itu diayunkan dan membelah dahinya.

Sebuah riwayat mengatakan, ketika menebas dahi Imam Ali, lelaki itu berteriak, "Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!”

Nama lelaki itu adalah Ibnu Muljam.

Banyak yang mengingkari kisah ini dan mengatakan bahwa Imam Ali dibunuh oleh suruhan Yahudi dan Nasrani. Tetapi sesungguhnya Ibnu Muljam adalah seorang yang hafal Quran, puasanya tidak pernah putus, shalat malamnya kuat dan bacaan kitabnya merdu.

Seorang muslim akan merasa rendah diri ketika Ibnu Muljam menampakkan kemampuannya menjalankan syariat. Tapi ternyata itu tidak menghentikannya untuk membunuh orang yang dikasihi sang Nabi, pemeluk Islam pertama dan sejak kecil bersamanya. Imam Ali juga dikenal sebagai bagian dari tim penyusun kitab suci di masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Buat Ibnu Muljam, Ali bin Abi Thalib adalah seorang kafir, karena berbeda pandangan dengannya. Dan ia merasa darah Ali halal untuk ditumpahkan olehnya.

Imam Ali tidak mengerang sedikitpun. Dengan dahi terkoyak, ia mengucap, "Aku menang, ya Allah.."

Imam Ali meninggal dunia tiga hari kemudian, sesudah meninggalkan banyak pesan kepada kedua anaknya, Hasan dan Husain, yang kelak juga dibunuh oleh mereka yang mengaku pengikut agama kakeknya, Muhammad SAW.

Ia syahid, sebuah kemenangan yang diidamkannya dalam perjalanan di dunia..

Fanatisme beragama dengan meninggalkan logika, membuat seorang Ibnu Muljam menjadi mesin pembunuh yang mengerikan. Ia menafsirkan sendiri ayat-ayat Tuhan dengan nafsunya, dengan tekstual tanpa mengerti konteks dan memahami maknanya.

Generasi Ibnu Muljam masih terpelihara sampai sekarang. Mereka yang beragama dengan nafsu mengkafirkan dan membunuh sesama -bahkan seiman- karena "mengikuti perintah Tuhan.."

Tuhan sesuai nafsu dan prasangkanya..

Politik dalam agama melahirkan Ibnu Muljam Ibnu Muljam baru. Mereka yang menghalalkan segala cara bahkan sampai menjual nama Tuhan demi kepentingan diri dan kelompoknya..

Seperti disini. Di negeri ini....

Ah, secangkir kopi malam ini rasanya pahit sekali...