Selasa, 12 Juni 2018

GERAKAN ANTI ZIONIS DI DUNIA

Yahudi
Judaism

"Judaism is not Zionism.."

Begitulah seruan yang selalu didengungkan oleh organisasi Neturei Karta. Menurut catatan, organisasi ini berdiri sejak tahun 1938 dan mempunyai arti "Penjaga Kota".

Neturei Karta berisi rabi-rabi Yahudi, yang menentang pendirian negara Israel di Palestina dan - terutama - menentang politisasi agama Yahudi oleh gerakan zionis, yaitu gerakan politik yang didirikan oleh orang-orang Yahudi untuk mengembalikan bangsa Yahudi ke tanah perjanjian..

Gerakan Neturei Karta ini mendunia, ada di mana-mana dan pengikutnya tercatat ada ratusan ribu orang. Dan mereka sejak dulu konsisten, meski diasingkan dan dibunuh karakternya oleh pemerintahan Israel.

Rabi-rabi Yahudi di Neturei Karta meyakini bahwa orang Yahudi tidak boleh menggunakan kekuatan manusia untuk melakukan pendirian negara Yahudi sebelum kedatangan Moshiach yang diterima secara universal.

Dan para rabi itu juga menuding bahwa pemerintahan Israel yang menggunakan agama Yahudi sebagai gerakan politik mereka, sebenarnya sekuler bahkan tidak percaya akan ajaran Yahudi. Tapi mereka harus bersembunyi di balik jubah agama Yahudi untuk mendapatkan legitimisasi atas tindakan politiknya..

Apa yang dilakukan oleh Neturei Karta ini mengingatkan saya, bahwa politisasi atas nama agama seringkali didasari bukan karena ajaran agama itu sendiri, tetapi karena kerakusan akan kekuasaan. Agama selalu ditunggangi karena masih sangat banyak umat yang terpaku pada dogma dengan mengesampingkan akal, sehingga mudah dibodohi oleh tafsiran terhadap ayat sesuai dengan kepentingan.

Dan masalah politisasi agama Yahudi ini oleh gerakan zionis, mirip dengan gerakan Ibnu Saud saat menguasai tempat suci umat Islam di Mekkah. Ibnu Saud lebih gila lagi, menamakan nama wilayah yang dia rebut dengan nama keluarganya, Arab Saudi.

Semakin lama gerakan Neturei Karta ini semakin besar karena banyak orang Amerika dan Eropa yang beragama Yahudi mendapat pencerahan.

Mereka-mereka ini yang selama ini menolak kekerasan dalam bentuk apapun, apalagi kekerasan menggunakan agama dalam penguasaan tempat suci mereka. Orang-orang ini juga yang melepaskan diri mereka dari tekanan tudingan "antisemit" ketika membahas bahwa gerakan zionis sebenarnya memanfaatkan pembantaian bangsa Yahudi oleh Nazi, sebagai bahan untuk mencari simpati dunia dalam mendirikan negara Israel.

Dari sini kita bisa memahami betapa bahayanya politisasi agama dan betapa banyak manusia yang masih sibuk membawa ayat dengan tafsiran seenak udelnya untuk kepentingan diri dan kelompoknya..

Tapi selalu masih ada orang-orang baik yang membela agamanya. Seperti Neturei Karta.

Seperti saya dan banyak teman juga di Indonesia ini, yang selalu bersuara, "Islam bukan Wahabi.."

Seruput kopinya...