Selasa, 19 Juni 2018

INTRIK & POLITIK DI ISTANA

Politik
Morgan Freeman

Pernah nonton film "The Sum of All Fears ?"

Film yang dibintangi Ben Affleck dan Morgan Freeman berdasarkan novel Tom Clancy ini, bercerita tentang bagaimana sekelompok orang yang tergabung dalam Neo Nazi berusaha mengadu domba AS dan Rusia untuk perang nuklir.

Caranya, mereka bekerjasama dengan beberapa pejabat tinggi militer Rusia untuk membom Cechnya - sekutu AS waktu itu - sehingga AS pun langsung menyiapkan pasukannya.

Dan pemboman Cechnya itu bukan perintah Presiden Rusia, tapi gerakan dari beberapa petinggi tinggi militer Rusia yang memang sengaja ingin membangun sikap bermusuhan dengan AS untuk menimbulkan reaksi mereka.

Yang menarik adalah reaksi dari Presiden Rusia, Alexander Nemerov. Presiden yang digambarkan di media-media AS - dalam film itu - sebagai pribadi yang keras, langsung mengumumkan ke publik bahwa ia bertanggung jawab terhadap pemboman Cechnya.

Sesudah konferensi pers, orang kepercayaannya bertanya ketika mereka sedang berdua, "Kenapa kamu mengaku bertanggung jawab, sedangkan kamu tidak melakukan pemboman itu ?"

Jawaban Presiden Rusia itu masih melekat di benak saya, "Lebih baik terlihat keras dihadapan AS, daripada harus terlihat lemah karena mereka melihat saya tidak mampu mengatur angkatan bersenjata.."

Menjadi Presiden itu tidak mudah, itu yang saya pelajari. Ia harus mampu berhitung sekian langkah ke depan untuk mengambil keputusan. Dan keputusan itu belum tentu popular atau menyenangkan banyak orang.

Terkadang ada yang disembunyikan dan tidak ditampakkan ke publik. Seperti misalnya, ada dari jajarannya yang bermain politik di belakang tanpa sepengetahuannya. Orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi, tapi membangkang bahkan berusaha menjatuhkan nama Presiden dengan gerakannya.

Tentu tidak bisa seorang Presiden berkata ke publik, "Ada beberapa pejabat yang membangkang dari perintah saya.." Karena itu akan menjadi preseden buruk dan membangun blunder blunder baru yang sulit dia tahan.

Terkadang seorang pemimpin harus mengambil tanggung jawab - meski itu buruk dan bukan perintahnya - demi keamanan nasional. Karena ia harus berfikir lebih luas untuk menjaga stabilitas.

Menonton film The Sum of All Fears, kita jadi memahami betapa berat tugas Jokowi. Ia bukan saja menghadapi musuh-musuh politik di depan, tapi bisa saja musuh dalam selimut di dalam jajarannya yang mencoba mengambil keuntungan dari situasi ini.

Apa yang terjadi dan kita dengar juga baca di media, belum tentu adalah kejadian sesungguhnya. Mungkin saja kejadian di belakang layar lebih parah, tetapi seorang pemimpin harus bisa menutupinya.

Tapi seperti layaknya penonton sepakbola, kita seakan2 lebih tahu situasi disana dengan komentar-komentar yang berdasarkan dari, "Kata orang itu begini. Ini info A1.."

Ini tahun politik, menuju Pilpres, apapun bisa terjadi. Termasuk gerakan-gerakan dari dalam untuk menjatuhkan nama Jokowi, disaat dia adalah calon yang surveynya tinggi, sedangkan lawannya belum punya nama.

Menghakiminya bahwa, "Dia lemah, tidak tegas.." adalah sebuah kesalahan. Rekam jejaknya dari membubarkan HTI adalah bukti keberanian dimana sekian Presiden sebelumnya tidak mampu melakukannya...

Kembali ke film Sum of All Fears, atau Puncak dari segala ketakutan..

Meski mengambil tanggung jawab sebagai pelaku pemboman di depan publik, di belakang Presiden Nemerov melakukan penyelidikan, "Siapa dibalik semua ini ?"

Dan ketika ia akhirnya tahu bahwa ternyata pelakunya adalah pejabat militer di belakangnya, tanpa ampun ia menyikat mereka dengan senyap dan tidak dengan tangannya..

Intrik dan politik di istana, jauh lebih ganas dari apa yang kita ketahui dari luar sini...

Mending diam dan amati, sambil seruput secangkir kopi, kemana kita semua dibawa sekarang ini.

Dan seperti biasa, ular beludak akan muncul kepalanya di akhir permainan sehingga apa yang tadinya kita anggap sebagai kawan, ternyata adalah musuh sesungguhnya.