Jumat, 22 Juni 2018

JAWA TIMUR BEREBUT JOKOWI

Pilkada Jatim
Pilkada Jatim

Jatim sedang terbelah dua sekarang ini..

Mendekati 27 Juni, saat pemilihan Gubernur nanti, dua kubu sedang sama-sama ngototnya dan mulai anfren-anfrenan. Masalahnya cuma satu, "Mana sebenarnya pasangan Cagub yang didukung Jokowi?"

Lucu memang, di Jatim Prabowo gak laku. Kampretos juga manyun mencureng dengan jidat ireng. Disini yang ada pendukung Jokowi versus pendukung Jokowi.

Gus Ipul sebenarnya bukan mutlak pendukung Jokowi. Rekam jejaknya pada waktu Pilpres 2014, dia tidak mau secara terbuka menyatakan bahwa ia mendukung salah satu Capres. Entah malu, entah ragu. Mungkin karena Pakde Karwo, Gubernurnya, orang Demokrat dan Demokrat waktu itu jelas milih Prabowo.

Bahkan pada menjelang bulan-bulan mendekati pencoblosan, ia masih belum tegas menyatakan dukungan pada Jokowi.

Setidaknya terlihat di acara Mata Najwa bulan Januari, dimana Najwa Shihab dengan cerdik menjebaknya dengan pertanyaan, "Jadi Gerindra atau PDIP ?" Dengan politis Gus Ipul menjawab, "Kita serahkan pada partai pertama yang mendukung.."

Dan Ganjar Pranowo lah - loyalis berat Jokowi - yang menjawab, "Gus Ipul harus mendukung Jokowi di 2019. Shalat istikharah dulu.." Baru sebulan kemudian, ketika didesak ia dengan tegas mengatakan, " "Ya iyalah, Pak Jokowi. Memang ada calon lain?"

Sedangkan Khofifah sebenarnya tidak perlu dipertanyakan. Sejak Pilpres 2014, dia adalah pendukung utama Jokowi di Jatim. Bahkan ada pengamat yang dulu mengatakan, "Kunci kemenangan Jokowi di Jatim ada di Khofifah.." Bisa ada benarnya, tetapi harus diingat juga militansi kader banteng di Jatim yang tidak kalah besarnya.

Sebenarnya, "perang" para pendukung Jokowi ini diramaikan oleh PDIP sebagai partai pengusung Gus Ipul dan Barisan Relawan Jokowi Presiden atau BaraJP yang mendukung Khofifah. Dua-duanya meyakini, bahwa "Jokowi nitip supaya menangkan si A". Dan "A" menurut tafsiran dua kelompok itu berbeda..

Yang menarik lagi di Pilgub Jatim, PDIP dan Gerindra/PKS satu gerbong mendukung Gus Ipul. Padahal nanti Pilpres mereka berdua berantem habis-habisan. Kan gak mungkin Prabowo dukung Jokowi ? Sedangkan disisi Khofifah, ada Demokrat dan PAN yang juga jelas-jelas gak milih Jokowi. (Eh Demokrat mungkin deng, asal AHY jadi Wakil 😂)

Kenapa begitu ?

Sesudah gagal membuat poros ketiga di Jatim, koalisi Gerindra/PKS/Demokrat & PAN sepertinya sepakat untuk membelah diri. Lha gimana, mereka gak punya calon di Jatim, sama seperti mereka belum punya calon Presiden. Akhirnya mereka setengah hati, "Yang penting eksis, daripada gak milih.."

Dari Pilgub Jatim, kita bisa melihat strategi ciamik Jokowi dalam memainkan dua kuda catur secara bersamaan. Siapapun yang jadi Gubernur, Jokowi tetap pemenang. Yang kalah bisa diajak ke istana, jadi Menteri apalah..

Dengan jumlah pemilih kedua terbanyak di Indonesia sesudah Jabar, Jatim memang sangat strategis. Ada lebih dari 31 juta pemilih di Jatim. Dan seperti kata banyak pengamat, "Memenangkan Jawa, berarti memenangkan singgasana.." Itulah strategi Jokowi sebenarnya, bagaimana memenangkan wilayah Jawa..

"Jadi, abang milih siapa dong ??" Temanku kayak Najwa aja menjebak dengan pertanyaan.

"Ngga, ah... Entar kamu unfren lagi..." Kataku sambil seruput kopi.

"Ngga mungkin dong, entar kamu lupa hutangmu lagi.." Dia menjawab santai.

Aku langsung tersadar, dan pelan-pelan menghilang di kegelapan malam. Seperti kampret, cuman ini Batman...