Jumat, 01 Juni 2018

MANUSIA YANG TELANJANG

Religi
Tafakkur

"Taubat itu sejatinya adalah keinginan bawah sadar manusia. Keinginan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya..."

Temanku menjelaskan tentang konsep taubat. "Jadi bukan sekedar kata yang menggantung di lidah. Keinginan taubat itu munculnya bertahap, tidak serta merta..."

Menyenangkan membedah logika beragama bersama dia. Penjelasannya begitu sederhana dan mudah dicerna. Secangkir kopi menemani kami sore itu sesudah berbuka.

"Kita sering salah paham dalam masalah ini. Dikira taubat itu mudah, lalu cukup dicuci dosanya dengan ritual ibadah, pergi ke tanah suci, seakan2 Tuhan butuh semua itu. Bukan begitu. Semua ritual ibadah itu kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Sang Pencipta.

Memang Tuhan itu Maha Penyayang, semua taubat manusia pasti diterima. Tapi yang kita lupa, Tuhan juga Maha Adil. Jadi, semua yang kita lakukan pasti ada balasannya. Dan balasan Tuhan selalu dalam bentuk proses yang dikemas pada peristiwa..."

Ia lalu menyeruput kopi yang tersedia. Matanya menerawang jauh seakan membayangkan situasi masa lalu dimana ia pernah berada..

"Keadilan Tuhan dalam membersihkan manusia yang bertaubat itu dinamakan pencucian dosa. Sebagian lain mengatakan penyucian. Dan proses itu kita alami dalam bentuk sakit, kemiskinan, kehilangan bahkan kesulitan mencari penghidupan..

Sakit ? Sangat. Namanya saja dicuci atau disucikan. Sama seperti mengerik karat yang selama ini menempel di tubuh kita. Dan lamanya proses, begitu juga intensitas sakitnya, bergantung sebesar apa maksiat yang dulu kita lakukan..

Keadilan Tuhan sangat presisi. Tidak ada yang terlewatkan dalam prosesnya.."

Aku merinding mendengarnya. Ternyata begitu prosesnya. Pantas banyak yang tidak tahan menjalaninya dan putus asa.

"Apakah semua manusia harus melalui proses itu ?" Tanyaku.

"Pasti.." Temanku menatapku. "Semua proses itu - meski menyakitkan - tetapi membersihkan jiwa kita, supaya kembali menemukan fitrahnya. Semua sifat-sifat binatang kita dihancurkan dan pada akhirnya kita akan kembali menjadi seperti manusia.."

Ia lalu memesan kopi yang kedua..

"Itu baru di dunia, tempat pencucian pertama. Di akhirat beda lagi caranya..."

Ah, semakin malam semakin telanjang aku jadinya.