Selasa, 19 Juni 2018

MEMECAH BARISAN JOKOWI

Pendukung Jokowi
Jokowi

Bagaimana mengalahkan Jokowi?

Ini yang selalu ada dalam pikiran lawan politiknya. Survey-survey setiap waktu menunjukkan popularitas dan elektabilitas Jokowi terus meninggi. Sedangkan Prabowo, lawan terkuatnya, tetap jauh berada di bawahnya.

Dalam waktu 2 bulan lagi, Agustus, sudah harus ada penetapan Calon Presiden. Sedangkan lawan politik Jokowi belum ada satu calonpun yang diajukan. Mereka sibuk #gantiPresiden tapi tagar itupun semakin melemah karena sudah mencapai titik jenuhnya.


Mulai isu anti Islam dan musuh ulama, isu PKI sampai tenaga kerja China ternyata tidak efektif menurunkan hasil survey. Orang sudah tidak percaya dengan isu-isu itu karena tidak terbukti. Head to head dengan Jokowi dalam keadaan seperti ini berbahaya, sudah pasti kalah.

Lalu apa yang harus dilakukan ?

Perang Siffin adalah sebuah sejarah dalam Islam yang bisa dipelajari bagaimana cara mengalahkan musuh yang terkuat.

Perang Siffin adalah perang antara Muawwiyah dan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Muawwiyah yang ingin mengambil alih kekhalifahan dari tangan Imam Ali terus menerus menyerbu dengan armada pasukannya.


Tetapi ia sulit menembus benteng pertahanan lawannya. Bahkan pasukan Imam Ali berhasil memojokkan Muawwiyah dan tinggal satu pukulan lagi, maka selesai semua.

Muawwiyah yang cerdik dan licik, memutar otak bagaimana cara lolos dari kekalahan ? Ia mulai sadar bahwa menyerang dari depan dan berhadapan jelas kalahnya. Yang harus dia lakukan adalah memecah dari dalam.


Muawwiyah mempelajari, bahwa di dalam pasukan Ali bin Thalib ada kelompok "agama baperan". Mereka yang fasih dalam beragama tapi kurang berakal. Maka Muawwiyah menggunakan isu agama untuk memecah belah. Ia lalu menancapkan Alquran diatas tombak, dan berkata, "Kami menyerah..".

Karena ada Alquran itulah, sekelompok pasukan - yang kelak dinamakan khawarij atau pembangkang ini - kemudian mendesak Imam Ali untuk menerima penyerahan diri Muawwiyah. Imam Ali berkata, "Itu siasat belaka. Kita sudah hampir menang. Mereka ingin memecah belah kita.." Tapi pasukan Khawarij tidak perduli. Buat mereka "orang yang menjunjung Alquran adalah segalanya".

Disinilah titik pecahnya pasukan Imam Ali dan kemenangan Muawwiyah. Kelompok khawarij ini juga yang akhirnya dipakai Muawwiyah untuk memerangi Imam Ali dan terkenal dengan nama perang Nahrawan.

Sejarah selalu mengalami pengulangan dan bagi beberapa orang banyak dijadikan rujukan. Jika tak mampu memukul dari luar, maka pecahkan dari dalam. Biar kerusakannya menyebar dan barisan bubar.


Memahami politik itu harus melihat dari perspektif luas. Bahwa tidak semua orang-orang disekitar Jokowi itu satu tujuan. Banyak diantara mereka yang punya agenda-agenda tersendiri, yang baru ketahuan disaat mereka kemudian ada diluar barisan.

Kemaren banyak yang memuji-muji sang Menteri, dan ketika ia dipecat banyak yang menyesalkan. Tapi semakin lama semakin ketahuan bahwa musuh paling berbahaya bukan musuh yang kelihatan, tetapi justru mereka yang terlihat sebagai teman.

"Dekati temanmu, tapi lebih dekatlah pada musuhmu.." Strategi Tsun Zu ini tidak hanya dipakai Jokowi, tapi juga pihak lawan.

"Jokowi harus digerus elektabilitasnya. Bikin dia tampak lemah dan tidak tegas, terutama di masalah hukum. Karena menyerang dia di masalah pencapaian ekonomi akan sia-sia.

Pecah barisannya, serang juga lawannya, dan poros ketiga akan menguat. Kita munculkan alternatif baru yang diterima oleh banyak orang..." Begitu kata seorang teman.

Dan secangkir kopi ternyata tidak cukup menemani cerita-cerita ini yang semakin lama semakin seru dan mengasyikkan..