Minggu, 17 Juni 2018

PANIKNYA GERINDRA

Kasus Chat Seks
SP3 Habib Rizieq

Apa dampak dari SP3 Rizieq Shihab?

Ternyata peluru yang diluncurkan dengan terbitnya SP3 berdampak kemana-mana. Dan ternyata dampak yang paling parah ada di Gerindra.

Kenapa ?

Seperti kita tahu, beberapa saat lalu Prabowo dan Amien Rais berusaha menggalang kekuatan atas nama umat Islam dengan berkunjung ke Saudi dan melakukan ikrar bersama. Seperti biasa mereka memakai narasi "umat Islam" seolah-olah mereka layak memakainya atas nama politik praktis.

Dan mereka tahu, dengan ditahannya SP3 Rizieq Shihab, mereka bisa memakai narasi berikutnya, "Pemerintah zolim karena Rizieq dijadikam tersangka tanpa proses yang adil.." Dalam artian, bukti-bukti untuk menyeretnya ke pengadilan belum cukup, tetapi dipaksakan hanya untuk memenuhi syahwat politik pemerintah mendekati 2019.

Dan bahayanya, ini akan bisa dijadikan celah untuk menggalang demo besar sama seperti demo kasus "penista agama". Dari sini kita bisa membaca bahwa dari semua serangan untuk menjatuhkan Jokowi, serangan ini yang paling efektif dan terarah.

Maka dilepaskanlah kasus chat seks Rizieq Shihab sebagai pancingan, bukan sebagai bagian dari negosiasi.

Dan ternyata yang kelojotan adalah Gerindra.

Gerindra merasa bahwa ini taktik dan strategi Jokowi untuk meredam suasana. "Jokowi berusaha berdamai mendekati pemilu.." Begitu disampaikan Wasekjen Gerindra Andre Rosiade.

Gerindra patut gentar, karena kekuatan mereka sekarang ini ada di Rizieq Shihab. Cuma itu peluru mereka satu-satunya sekarang ini karena survey Prabowo sudah tidak mungkin naik lagi. Dan merangkul Rizieq berarti mendapat legitimisasi bahwa mereka didukung "umat Islam". Entah umat Islam yang mana versi Gerindra..

Dan Gerindra pasti berhitung, jika Rizieq dirangkul Jokowi, atau setidaknya disandera dengan "bukti-bukti yang masih rahasia", maka mereka tidak punya pegangan kuat lagi.

Ini jadi buah simalakama buat Gerindra. Mereka senang, karena kasus Rizieq ada kepastian. Tapi gemetar karena bisa jadi ada sesuatu dibalik semua penghentian. Mereka ketakutan akan bayangan pemikirannya sendiri.

Bisa jadi ketakutan Gerindra benar. Kalau melihat langkah Jokowi memang kita tidak bisa berhitung hasil di awal. Jokowi senang terlihat kalah, karena disanalah dia bermain sebenarnya. Membuka pertahanan supaya lawan masuk dan menyerang, lalu menutupnya rapat-rapat sehingga musuh terkurung dan tak mampu melawan. Seperti tikus masuk perangkap karena tergiur makanan..

Dengan begitu Jokowi mendapat dua keuntungan. Satu, kasus Rizieq tidak bisa dijadikan senjata oleh lawan untuk menyerang dan kedua, memecah belah barisan sehingga didalamnya terjadi ketegangan. Gerindra pasti mencurigai bahwa Rizieq ada "deal-deal" tersendiri dengan Jokowi untuk memenangkan dirinya.

Kekuatan paling besar sebenarnya adalah bagaimana memecah solidnya internal. Dengan begitu mereka akan terpecah dan menyebar.

Situasi ini mirip situasi saat perang Siffin dalam sejarah Islam. Muawwiyah yang terpojok karena solidnya serangan, memakai taktik dengan "menyerah" menggunakan Alquran. Dan ramailah kaum khawarij yang berada di barisan Imam Ali menuntut supaya menerima penyerahan diri itu meski Imam Ali bersikeras mengatakan, "Bahwa itu semua pancingan.."

Dan sejarah juga mencatat, bahwa Khalifah Ali bin abu Thalib, akhirnya kalah karena strategi Muawwiyah itu.

Dalam perang, memang taktik dan strategi itu yang utama, bukan sekedar adu kekuatan. Kadang perlu mundur untuk mengatur kekuatan, kadang menyerang untuk membuat gertakan.

"Perasaan menang adalah kekalahan sesungguhnya.." Begitu seorang teman berkata. "Karena ketika orang dibuai kemenangan, maka kuda-kuda kaki mereka pasti lemah. Gampang dijatuhkan.."

Seruput kopi makin asyik melihat bagaimana kasus ini berjalan...