Sabtu, 02 Juni 2018

Perang Besar Jokowi: Bersih-bersih Kampus dari HTI

Radikalisme
Terorisme dan Radikalisme

Seorang Profesor di Universitas Diponegoro Semarang dibebastugaskan, karena diduga membela HTI. Satu orang dekan dan dua orang dosen di ITS Surabaya diberhentikan sementara karena membela HTI.

Menristekdikti, Prof Mohammad Nasir, sedang berperang melawan paham radikalis di kampus-kampus yang ada dalam pengawasannya.

Sejak ia "diberi mandat" dengan keluarnya Perppu pembubaran ormas HTI tahun 2017 lalu oleh Presiden Jokowi, M Nasir langsung bergerak bekerjasama dengan BNPT sampai BIN untuk mulai menyisiri kampus yang terpapar radikalisme.

"Radikalisme di kampus tumbuh sejak tahun 1983, yaitu ketika Kampus dilarang mengadakan kegiatan politik. Situasi kosong ini dimanfaatkan paham radikalis untuk menyebar di dalam kampus.." Katanya.

Kalau mendengar penjelasan M Nasir ini, kita bisa membayangkan betapa hebatnya paparan radikalisme di kampus yang bukan saja melibatkan mahasiswa tetapi bahkan sudah sampai ke Dekan. Bukan tidak mungkin pemahaman radikalis ini sudah ada di beberapa rektor, meski tidak ada yang mau mengakuinya.

Kebayang ketika seorang pemimpin universitas berpaham radikalis, maka ia akan merekrut atau membangun jalan bagi dekan dan dosen yang satu paham dengan dia. Dengan begitu kampus juga akan menyediakan beasiswa dan fasilitas2 kepada mahasiswa yang juga satu paham dengan mereka.

Jadi wajar jika ada kampus yang menerapkan untuk masuk universitasnya ada yang pake cara "khatam Alquran".

Dan menurut penelitian pakar terorisme dari Universitas Brawijaya, Yusli Effendi, cara masuk paham radikalis memang melalui jalur kerohanian. Mereka menyasar mahasiswa urban, atau yang pindah dari desa ke kota, karena tingkat kritisnya biasanya lemah.

Dan biasanya yang disasar adalah fakultas eksakta, karena mahasiswanya mudah menerima paham radikal. Itu karena mahasiswa eksakta tidak kritis dan argumentatif..

”Karena yang mereka hadapi adalah benda mati, bukan seperti mahasiswa humaniora yang fokus pada sosial,” jelas Yusli.

Nah, salah satu bidang eksakta adalah teknologi pertanian. Jadi wajar saja ada satu kampus terkenal di bidang pertanian, cita-cita mahasiswanya malah ingin jadi tukang bekam..

Model perekrutannya melalui masjid-masjid kampus. Seperti MLM, member get member, paham radikalis ini menyebar. Ditambah dengan kemudahan fasilitas yang diberikan dekan dan dosen yang berpaham sama, maka wajar jika BIN menyebutkan bahwa 39 persen mahasiswa sudah terkena virus radikalisme. Yang berarti jumlahnya sudah ratusan ribu orang..

Pemberhentian sementara para dekan dan dosen di Undip dan ITS ini sebenarnya adalah gerakan memotong kepala ular.

Meski begitu, sebagai ular dengan banyak kepala, maka di dalam kampus perlu juga diawasi masjid-masjid tempat mereka berkumpul. Jika perlu kerjasama dengan NU dan Muhammadiyah untuk mulai mengendus bau-bau radikalis pada pengelola masjid kampus..

Bisa dibilang ini perang besar Jokowi dalam menghadang radikalisme, yang untuk sementara masih diidentikkan dengan HTI.

Seperti Kanker, virus radikalisme di kampus-kampus sudah memasuki tahap ganas dan berbahaya. Dan untuk menyembuhkannya diperlukan proses kemoterapi dalam waktu yang lama. Kampus itu hanya tempat pembinaan mereka saja, sedangkan virusnya sudah menyebar kemana-mana termasuk di dalam pemerintahan..

Jadi jangan kaget, kalau satu waktu anda sedang iseng pengen bekam, si bapak bekamnya cerita bahwa dia dulu pernah kuliah di universitas terkenal bidang pertanian..

"Bekam itu seperti masang bom, pak. Satu persatu alat dipasang, dan ketika semua lengkap langsung Buuumm! badan berantakan.."

Ngeri gak sih?