Jumat, 20 Juli 2018

ANIES BASWEDAN, SEBUAH CATATAN KESALAHAN

Anies Baswedan
Anies Baswedan

Temanku seorang dosen. Dia ahli sekali dalam semua hal tentang ekonomi. Wawasannya luas dan ia mampu menjabarkan ekonomi dalam berbagai perspektif, dan mampu menerangkannya dalam setiap kesempatan dengan bahasa menarik.

Temanku satu lagi seorang pengusaha..

Ia sama sekali tidak paham teori ekonomi. Ia besar dan kaya karena terbiasa. Ia mengalami jatuh bangun dalam usahanya, sebelum ia melejit sesudah memahami medannya. Baginya ekonomi dipahami secara sederhana, bagaimana bisa mengembangkan perusahaannya sehingga produk2nya disukai pembelinya.

Temanku yang dosen adalah seorang akademisi dan temanku yang pengusaha adalah praktisi.

Ada perbedaan mendasar di kedua model temanku itu. Satu canggih dalam hal teori, dan satunya lagi hebat dalam prakteknya. Bayangkan apa yang terjadi jika temanku yang dosen dan yang pengusaha bertukar tempat? Tentu kacau, karena mereka punya keahlian yang berbeda..

Itulah yang ada pada Anies Baswedan sekarang..

Anies dari rekam jejaknya adalah seorang akademisi. Ia adalah seorang dosen, seorang peneliti dan mantan rektor. Ia penuh dengan teori organisasi dan strategi bagaimana sesuatu itu harus terjadi. Jangan tanya tentang buku apa yang pernah dibacanya dalam ilmunya, semua habis dilahapnya. Sebagai seorang akademisi, dia pasti mumpuni..

Tapi bagaimana jika dia diterjunkan dalam prakteknya ?? Gagal total..

Jokowi pernah kagum padanya karena semua teori dan pemikiran Anies masuk akal tentang banyak hal. Kekaguman Jokowi kemudian diwujudkannya dengan menempatkan Anies sebagai Menteri Pendidikan. Tentu Jokowi punya harapan, bahwa teori2 Anies bisa dieksekusi oleh yang punya teori..

Tetapi antara teori dan eksekusi adalah dua hal yang berbeda..

Anies bukan seorang eksekutor yang bagus. Ia punya teori yang canggih tentang bagaimana berenang yang baik sehingga orang bisa menjadi juara renang. Tapi ketika ia didorong ke dalam air, ia langsung tenggelam, karena secara praktek ia awam.

Dan ia tahu, bahwa ia tidak pandai berenang, hanya menguasai teorinya saja. Karena itulah untuk menutupi kelemahannya ia bermain kata-kata.

Jadi jika melihat konteks ini, kita bisa paham gagalnya Anies dalam memimpin Jakarta. Ia tidak mampu melihat permasalahan dan mengeksekusinya dengan segera.

Jakarta itu seperti perusahaan bukan universitas. Perusahaan membutuhkan seseorang dengan kemampuan managerial yang mumpuni. Bukan hanya mampu menggerakkan orang, tetapi yang lebih penting mampu membangun strategi dan menuntaskan permasalahan dengan solusi.

Seperti banyak kasus, Anies mencoba meyakinkan bahwa ia mampu memimpin Jakarta. Tetapi yang ia kerjakan bukan menuntaskan masalah, hanya membungkus masalah supaya jangan terlihat menjadi masalah. Padahal dalam sebuah organisasi seperti perusahaan, masalah itu harus diatasi, bukan kemudian dicari-cari bagaimana membungkusnya supaya terlihat sebagai solusi.

Beda sekali dengan Ahok. Ahok seorang manajer yang tangguh. Ia sangat detail dan solutif. Sekali melihat masalah, langsung diatasi. Karena ia mengerti, bahwa masalah itu ada akarnya dan itu yang harus diselesaikan segera..

Suruh Ahok mengajarkan teori, ia pasti gagap di depan kelas. Tapi ketika turun ke lapangan, dialah orang yang paling sigap..

Inilah kesalahan orang Jakarta dalam mengambil pimpinan tanpa melihat kompetensi. Hanya melihat bungkus tanpa memperhatikan isi. Para pemilih tidak memperhatikan rekam jejak, hanya berdasarkan rasa suka dan tidak suka..

Bagaimana jika Anies nanti memimpin negeri?

Sudah kebayang, kacaunya birokrasi. Dan kita akan menatap kesuraman sambil seruput secangkir kopi.