Senin, 23 Juli 2018

KASUS LAPAS SUKAMISKIN MENCORENG WAJAH JOKOWI

Lapas Sukamiskin
Kamar Mewah di Lapas Sukamiskin

Coba sekali-sekali nonton youtube tentang bagaimana China menghukum mati para koruptor.

Mengerikan. Mereka diarak dulu, dipermalukan. Kemudian ditembak belakang kepalanya dan itu difilmkan. Disebar ke seluruh negeri untuk membangun efek jera.

China tidak seperti Indonesia, dimana koruptor bisa dadah dadah di televisi seakan-akan pahlawan. Di China ketika koruptor ditangkap, wajah kengerian terpampang karena buat mereka hidup tinggal menunggu waktu saja.

Anggaplah Indonesia tidak akan bisa seperti China. Kenapa? Karena China itu negeri satu partai. Jadi kebijakan apapun mudah dilakukan, tanpa perlu berdebat panjang.

Sedangkan di Indonesia, sulit sekali. Karena mereka yang menyusun UU hukuman mati, mereka juga yang punya potensi korupsi. UU hukuman mati untuk para koruptor, bisa jadi tinggal mimpi.

Karena korupsi di Indonesia itu adalah "oli pembangunan", begitu kata Fadli Zon suatu hari.

Tapi melihat bagaimana mewahnya ruangan di Lapas Sukamiskin memang menyakitkan hati. Dan -lucunya- ini bukan kejadian pertama kali.

Yang membekas di benak kita adalah kasus Artalyta Suryani atau Ayin. Ayin ditahan karena menyuap Jaksa. Dan kehebohan muncul ketika Denny Indrayana memergoki bahwa ruangan selnya dia di Rutan Pondok Bambu mewah sekali. Bahkan ada ruang kerjanya segala.

Belum lagi kasus Gayus Tambunan, petugas pajak yang bisa dengan seenaknya keluar masuk Mako Brimob dan sempat kepergok nonton tenis di Bali.

Bobroknya mental petugas kita sebenarnya sudah harus jadi fokus kerja Menkumham Yasona Laoly. Tapi entah kenapa, masalah korupsi di dalam Lapas ini seperti sengaja dibiarkan. Padahal mudah, jika mau ada niat melakukan sidak atau memasang cctv di dalam lapas.

Berapa banyak sih lapas untuk koruptor? Apa segitu susahnya untuk mengawasi?

Lapas itu seperti negara dalam negara. Dimana sulit sekali menembus barikade mereka untuk sekedar mengawasi apa yang ada di dalam sana. Para petugas seperti benteng menghalangi siapapun masuk dan melihat kondisinya. Mereka bekerjasama dengan tahanan lain untuk memperkaya diri sendiri dengan memanfaatkan tahanan kaya.

Lalu dimana keadilan?

Disaat teriakan berantas korupsi menggema, tapi ternyata hukumannya tidak sepadan. Uang masih menjadi tuan di dalam. Begitu mudahnya petugas lapas disuap untuk memberikan kemewahan pada tahanan inilah yang menjadi masalah.

Jadi wajar dulu saya curiga ketika para tahanan teroris bisa dengan mudah memviralkan video mereka di dalam tahanan di Mako Brimob. Bagaimana cara hape masuk kesana? Dan bagaimana bisa mereka mendapat sinyal dan kuota untuk memvideokan pemberontakan mereka? Tentu ada kongkalikong di dalam.

Dan memalukannya, untuk masalah Lapas saja KPK yang harus turun tangan. Kemana Dirjen Pemasyarakatan? Toh Lapas itu ada dibawah pengawasan dia. Apa selama ini kerjanya? Masak mengawasi Lapas saja tidak bisa? Kemana Menterinya? Apa selalu menerima laporan "Asal Bapak Senang" saja?

Kalau ini terjadi di Jepang, kasus yang mencoreng wajah pemerintahan ini pasti akan diikuti oleh mundurnya orang-orang yang bertanggung jawab. Bukan hanya sekedar meminta maaf dan membiarkan "toh nanti juga berita itu akan menghilang".

Kasus Lapas Sukamiskin ini benar-benar mencoreng wajah Jokowi. Sia-sia pemberantasan korupsi yang ia dengungkan, ketika korupsi dalam Lapas dibiarkan.

Kita tunggu seberapa perduli pemerintah terhadap kasus ini. Mau memberantas korupsi tanpa ada efek jera, sama saja seperti minum kopi tapi tanpa sedikit gula.

Paitttt rasanya.