Sabtu, 21 Juli 2018

MODEL BISNIS PERTAMINA JAMAN NOW

BUMN
Pertamina

"Restoran ini dalam 10 tahun ke depan, akan menghasilkan pendapatan 10 milyar rupiah.."

Begitu kata saya pada Roy Sukro. "Ah, yang bener aje.. " Kata Sukro sambil megang panci yang pantatnya sudah hitam. Ia mikir, ini dibawa pulang jangan ya?


Saya memberikannya kalkulasi, hitung2an dimulai dari berapa orang yang selalu lewat depan restoran, berapa orang yang mampir setiap hari, berapa makanan yang terjual dan lain-lain.

Dan dari hitungan itu, tampak POTENSI pendapatan restoran dalam 10 tahun ke depan memang 10 milyar rupiah.

Roy Sukro ikut menghitung, sambil berpikir, "Hmm bener juga ya.."

Ia lalu bilang, "Oke, saya masukin duit 1 milyar. Dengan begitu saya punya hak 10 persen dari potensi keuntungan restoran..".

Loh, Roy Sukro sudah masukin duit duluan 1 milyar di depan. Kenapa dia yakin banget bahwa bisnis restoran saya menguntungkan ?

Karena menurut hitungan Roy Sukro, bisnis restoran saya punya potensi mendapat untung 30 milyar dalam 10 tahun. Kalau dia punya saham partisipasi 10 persen kan uangnya nanti jadi 3 milyar rupiah. Untung 2 milyar dia. Tapi dia juga bisa rugi kalau hitungan kami tidak tepat..


Apa yang Roy Sukro beli dari saya ? Yang dia beli adalah POTENSI. sekali lagi, POTENSI. Bukan sesuatu yang sudah terjadi.

Inilah yang disebut hak partisipasi atau "participating interest".

Familiar dengan kata itu ? Ya, kalau baca tentang bagaimana divestasi saham Freeport, pastilah ada PI atau participating interest Rio Tinto sebesar 40 persen di PT Freeport Indonesia.

Ini juga yang akan diberlakukan Pertamina terhadap bisnis2 di unit usahanya.

Jadi yang saya jual ke Roy Sukro adalah potensi pendapatannya. Potensi itu juga aset, tapi aset tidak berwujud atau intangible.

Sedangkan rumah saya yang dijadikan restoran, itu disebut tangible atau aset yang berwujud. Aset yang berwujud tidak ikut dijual karena itu sepenuhnya hak milik saya.

Participating Interest ini mirip model ijon. Dimana seorang pengijon memborong padi yang masih muda dengan cash di depan dan harga murah.

Petani dapat modal untuk memelihara padinya, si pengijon dapat untung nanti waktu padi sudah panen dengan harga pasar.

Model bisnis dalam perusahaan besar itu macam2, bukan model jualan sarung dipasar. Skemanya bisa sangat rumit, tergantung komoditi apa yang diperdagangkan.

"Kalau begitu, saya bawa dulu panci pantat hitam ini sebagai jaminan.." Kata Roy Sukro. "Nanti saya balik kesini lagi, tolong kompornya siapkan. Saya juga koleksi kompor bekas.. " Senyumnya girang dibalik kumisnya yang lebat dan sama sekali tidak merangsang..

Saya menatap cangkir kopi saya. Roy juga menatapnya. Saya genggam erat2, melihat Roy begitu napsu menatapnya. "Kenapa ?" Tanya saya gemetar.

"Itu... Cangkirnya seksi juga kelihatan.."