Selasa, 24 Juli 2018

MOELDOKO, BENARKAH IA CALON WAKIL YANG TEPAT?

Cawapres
Moeldoko

Saya sekali ketemu pak Moeldoko..

Waktu itu dalam sebuah acara yang dihadiri beliau, tiba-tiba seorang teman berteriak, "Pak, ini lho Denny yang kemarin katanya mau mundur kalau HRS dapat SP3.."

Kaget juga saya. Waduh, ada yang buka kartu. Padahal dari tadi saya sudah ngumpet di bangku belakang. Tidak ingin menonjol dan kelihatan. Bukannya apa-apa, takut beliau salah sangka dikira saya mau mundur beneran.

Dan sontak seluruh hadirin ketawa terbahak-bahak. Pak Moeldoko juga. Ia langsung bicara, "Mana yang katanya kemarin mau ngebully saya ?"

Saya pun maju ke depan. Tangan pak Moeldoko yang kuat menjabat tangan saya. Wajahnya dari dekat ternyata ramah. Dan ia begitu santai dan penuh canda. Jauh berbeda dari struktur wajahnya yang menampakkan ketegasan dan kerasnya kehidupan. Ia seorang Jenderal dan mantan Panglima TNI. Tentu sudah banyak makan asam garam hidup ini.

Isu yang beredar, beliau calon kuat wakil Presiden Jokowi. Saya rasa pantas memang, meski tetap saja pilihan terakhir ada di Jokowi. Kita tahulah, Jokowi susah ditebak langkahnya. Dekat belum tentu ia memilihnya.

Seperti Cak Imin yang sempat GR ketika Jokowi menepuk2 pundaknya. Toh seperti saya bilang, Jokowi tidak suka orang yang menonjolkan diri. Ia penguasa panggung dan tidak suka orang lain memanfaatkannya..

Dengan pak Moeldoko, berarti ada 3 orang Jenderal yang saya sudah berkomunikasi dengannya dan ternyata jauh berbeda antara pikiran saya sebelum dengan waktu bertemu mereka.

Yang pertama Hendropriyono dan kedua Luhut Binsar Panjaitan, meski yang terakhir ini hanya lewat telepon saja. Mereka bertiga punya kesamaan, santai, spontan dan tidak memandang diri lebih tinggi dengan orang dihadapannya.

Inilah Jenderal-Jenderal yang mendampingi Jokowi. Mereka pintar dan teruji. Strategi-strategi mereka jualah yang mewarnai situasi di Indonesia ini.

Berhadapan dengan pak Moeldoko, saya hanya bisa menyampaikan satu pesan. "Titip Pakde, pak. Beliau harapan kita supaya negeri ini bisa sejahtera. Musuh beliau banyak, tapi saya yakin beliau ada ditangan yang tepat.."

Pak Moeldoko tersenyum hangat. Wajahnya seperti memancarkan semangat. "Tenang, nak. Percayakan pada saya dan orang2 baik disekitar. Kami juga punya mimpi yang sama denganmu. Biarkan kami mengawal Indonesia supaya maju.."

Pertemuan singkat ini sangat berkesan. Dan seperti biasa, lautan manusia yang ingin bersalaman dengan beliau memisahkan.

Saya kembali ke sudut ruangan, mengambil secangkir kopi dan mulai membuat tulisan. Judulnya, "Moeldoko, benarkah ia calon wakil yang tepat ?"

Seruput dulu, ah..