Minggu, 29 Juli 2018

PAKDE JOKOWI, ADA TERORIS DI INSTANSI PEMERINTAH

Teroris
ISIS

Panggilannya Opung..

Ia adalah pejabat di instansi PLN di Pekanbaru. Orangnya ramah dan sosialnya tinggi. Ia sering membantu masyarakat tidak mampu untuk memasang listrik. Si Opung yang bermarga Daulay ini, disegani oleh warga komplek perumahannya dan dituakan disana. Ia juga dikenal warga mempunyai ilmu agama yang baik..

Kemaren, Sabtu, Opung didatangi anggota Densus 88 dirumahnya. Ia adalah penyandang dana jaringan teroris Pekanbaru yang tertangkap di Palembang. Warga sekitar rumahnya kaget, tidak menyangka orang yang selama ini mereka hormati ternyata bagian dari jaringan teroris untuk melumpuhkan Indonesia..

Kaget pejabat PLN ternyata teroris ? Seharusnya tidak..

Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta dan Rumah Kebangsaan di Gedung PBNU, beberapa hari lalu mengumumkan bahwa 56 persen masjid di lingkungan BUMN, terindikasi radikal. Sedangkan, 34 persen masjid di Kementrian juga terindikasi radikal.

Penelitian ini seharusnya membuka mata banyak pihak, terutama di pemerintahan, bahwa ada masalah di "rumah" mereka sendiri.

Sudah sekian lama, saya dan banyak teman-teman mengingatkan, bahwa masjid-masjid di BUMN, Kementrian dan Lembaga Pemerintah bermasalah. Shalat Jumat mereka bernada kebencian. Takmir-takmir masjid mereka, terindikasi dari kelompok pendukung khilafah. Buletin-buletin mereka menyerukan pembentukan negara Islam.

Kelompok radikal ini terpelihara sejak lama dan berkembang biak di masjid2 dan pengajian di pemerintahan. Mereka didukung dan dibiayai oleh para pejabat yang sudah membangun jaringannya di dalam instansi.

Beranak pinak disana dan membawa agenda besar untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Tapi mereka dibiarkan dan tidak pernah ada tindakan apa-apa.

Saya pernah bicara di depan BIN, Densus, dan Kepolisian, seharusnya aparat sudah berkoordinasi dengan NU - dan Muhammadiyah - juga lembaga pemerintahan seperti BUMN dan Kementrian, untuk mengganti takmir-takmir di masjid lingkungan mereka.

Kunci mereka disana, di takmir, yang mengatur segala kegiatan di masjid termasuk mengundang pembicaranya.

Sudah harus ada gerakan serius untuk membongkar jaringan "cuci otak" mereka. Para pejabat dan PNS seperti Opung tidak muncul secara tiba-tiba. Mereka terbiasa bergaul di masjid tempat mereka bekerja, dan mengkaji banyak hal disana.

Ingat kasus pejabat Kemenkeu yang berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS ? Ini seharusnya sudah menjadi peringatan pemerintah bahwa "ada sesuatu" di teras rumah mereka..

Penangkapan teroris adalah hal yang bagus. Tetapi lebih bagus lagi jika kita sudah melakukan pencegahan sejak dini supaya jangan lahir kembali orang-orang seperti Opung yang memegang jabatan dan keuangan dan dipergunakan untuk membiayai hal-hal yang bertentangan dengan pemerintahan yang sah.

Ada ribuan ustad-ustad muda NU dari berbagai daerah yang siap membela negara dengan dakwah mereka, dan bisa mengendus keberadaan kelompok radikal di masjid-masjid pemerintah.

Mereka hanya butuh difasilitasi dan diberikan tempat yang tepat. Biarkan mereka berjuang disana. Semua orang ada ahlinya, penanganan pemahaman agama dengan materi kebangsaan, mereka yang akan bekerja.

Saya siap mendekatkan mereka, tolong buka pintunya saja..

Bagaimana pak dan bu Menteri? Bagaimana pak Direksi? Setuju tidak, pak Jokowi?

Kalau iya, mari bergerak sekarang juga sebelum ada kejadian yang bisa menghilangkan nyawa orang tak berdosa..

Seruput dulu kopinya.