Sabtu, 21 Juli 2018

PERTAMINA MAU DIJUAL

Pertamina
Pertamina

Benarkah aset Pertamina akan dijual?

Berita penjualan aset Pertamina ini bulak balik di timeline saya. Bahkan ada banyak yang mempertanyakan "kenapa kamu gak bicara tentang aset Pertamina yang dijual?" Seolah-olah saya tahu semua dan harus menjelaskan.

Bahasa "dijual" ini memang bahasa sensitif. Terutama ketika menuju tahun politik, dimana gorengan harus makin sip.

Kata-kata "dijual" harus diteriakkan, timbulkan ketakutan kepada masyarakat awam bahwa Pertamina mulai jual-jual aset karena keuangannya buruk. Sama seperti penjualan Indosat oleh Megawati tahun 2002.

Padahal bahasa "dijual" ini adalah bahasa luas. Apa yang dijual? Apakah sahamnya? Apakah kontraknya? Apakah produksinya? Dan banyak lagi model yang bisa memanfaatkan kata "dijual".

Sebagai contoh sederhana begini..

Kita punya 5 rumah, di beberapa lokasi strategis. Semua rumah itu produktif, ada yang kita jadikan bisnis restoran, ada yang buat bimbingan belajar dan beberapa usaha diatasnya.

Nah, kita pengen memperbesar bisnis nih, ceritanya. Tapi kita butuh tambahan modal segar. Darimana dapatnya?

Oke, kita lakukan "Aksi korporasi.."

Kebetulan kita punya teman, namanya Roy Sukro. Si Sukro ini kalau ketawa mulutnya lebar. Dia dulu ahli IT tapi sekarang sukses buka restoran, karena dulunya suka ngambilin panci.

Kita tawarin ke si Sukro. "Kro, gua jual saham usaha restoran gua. Gua butuh modal untuk ngembangin bisnis lain. Tapi saham gua di restoran tetap mayoritas ya.. Elu masukin dana kesini, pegang saham minoritas. Aset rumah tetap milik gua, karena yang gua jual usahanya, bukan rumahnya.."

Itu namanya dijual juga, kan ? Dan inilah yang dinamakan "share down". Saling berbagi untung dan berbagi rugi dalam kepemilikan usaha..

Si Roy Sukro mau. "Wah, bagus nih. Entar kalau restoran yang ini gede, gua bisa ambil panci2nya untuk koleksi di rumah.." Emang kurang ajar si Sukro, partner bisnis diembat juga.

Sukro pun masukin duit. Kita dapat modal untuk ngembangin bisnis lain diluar restoran..

Dalam perjalanan, ternyata usaha restoran sama si Sukro ini berkembang besar. Dan kita ingin usaha ini bertambah besar. Hanya karena kita juga sibuk ngurusin usaha lain, kita gak sanggup membesarkan restoran itu.

Akhirnya kita membuat keputusan. "Usaha restoran harus punya manajemen sendiri, lepas dari perusahaan induk. Dia harus berkembang sendiri, punya badan hukum sendiri, bisa minjem duit ke Bank sendiri, pokoknya semua sendiri. Perusahaan induk gak ikut campur dalam manajemennya. Yang gua tahu, hasilnya disetor ke rekening gua.."

Wah, Sukro gak akan sanggup karena selain keuangannya terbatas, kemampuan otaknya juga terbatas. Karena itu, kita berdua mencari partner yang lebih mumpuni, yang punya uang dan punya kemampuan untuk membesarkan restoran menjadi banyak restoran.

Ini dinamakan "spin off", melepas perusahaan dari perusahaan induk, supaya mereka bisa lebih fleksibel bergerak dan menguntungkan.

Namanya "dijual" juga..

Lihat kan, dari dua kasus itu kita tahu bahwa kita sama2 menjual. Tapi bukan menjual karena rugi. Kita "menjual" usaha atau produksi, untuk menambah keuntungan, supaya perusahaan kita tambah besar.

Aset rumah? Tetap milik kita dong, kan yang dijual usahanya bukan asetnya..

Itulah yang dilakukan oleh Pertamina dalam aksi korporasinya. Semua bahasanya adalah "jual" tetapi bukan jual aset, melainkan menjual sebagian usaha, untuk menambah modal dan mengembangkan Pertamina menjadi lebih besar.

Bisnis Pertamina itu banyak, maka masing-masing harus dikelola dengan benar dan dengan partner yang mumpuni juga punya modal..

Mudah-mudahan penjelasan sederhana ini bisa dimengerti, supaya jangan teriak "Jual jual" doang, tapi gak ngerti maksudnya..

"Iya kan, Kro? Kro? Lha kok ngilang? Dimana lu, Kro?" Sial, si Roy Sukro ternyata kabur sesudah ngembat cangkir kopi gua..

Kro, kro... Kelakuan..