Jumat, 20 Juli 2018

POLITIK DINASTI

SBY
Keluarga SBY

"Kamu tahu Jokowi pernah ditawari uang 3 triliun rupiah?"

Seorang teman yang saya tahu dia dekat secara kekeluargaan dengan Presiden bercerita. "Untuk apa ?" Tanya saya sambil menyeruput kopi di sebuah warung angkringan.

"Untuk bikin partai.." Katanya.

Saya terhenyak. Gila, pikir saya. Banyak amat. Saya sendiri yakin banyak pengusaha yang tertarik jika Jokowi membuat partai baru. Sama seperti SBY ditawari membuat partai Demokrat dulu.

Popularitas Jokowi membuatnya mudah mencapai itu. Dan pasti banyak yang bergabung karena banyak orang memilih Jokowi karena sosoknya, bukan karena ia pendukung partai tertentu.

"Tapi Jokowi menolak. Dia tidak ambisi membuat partai baru. Partai itu seperti kerajaan baginya, dan ia terpaksa harus membangun dinasti untuk mempertahankannya..." Temanku menutup ceritanya.

Saya tersenyum. Jokowi memang sangat beda dengan SBY, bahkan dalam membina keluarganya. Anak-anak Jokowi tidak dituntutnya untuk mengikuti dirinya, atau ia memaksa untuk seperti dirinya.

Jokowi memang pernah mengaku bahwa ia sedih, anaknya tidak ada yang mau mengurus perusahaan meubel yang ia rintis. Tapi cukup sampai disitu, dan ia tidak pernah memaksa mereka.

Ia bahkan mendukung anak2nya untuk mandiri, belajar bagaimana membangun dan membesarkan perusahaan sendiri. Ia tahu, anak2nya tidak ingin berada dibawah bayang2 bapaknya. Mereka ingin punya jejak sendiri dalam kehidupannya..

Situasi yang berbeda ada pada keluarga SBY..

Anak2 SBY sejak awal memang dirancang untuk membangun dinasti dalam kerajaan mereka. Mereka harus mengikuti apa kata bapak ibu mereka, suka ataupun tidak. Bahkan anak tertua, Agus Harimurti, mengikuti jejak bapaknya menjadi tentara dan rela keluar untuk membantunya mempertahankan kokohnya partai mereka.

Perbedaan hasil didikan kedua keluarga ini terlihat jelas. Gibran dan Kaesang terlihat sangat bebas dan tidak sungkan bercanda dengan orangtuanya, bahkan di depan publik.

Sedangkan anak2 SBY terlihat kaku dan sangat teratur di depan kedua orangtuanya. Apalagi jika mereka tahu, bahwa kamera sedang menyorot mereka.

Ada harga yang harus dibayar memang. Jokowi menolak sesuatu yang bagi banyak orang dianggap sebagai kesempatan besar. Ia lebih memilih hidup merdeka dengan keluarganya.

Ia bisa saja memilih jalan seperti apa yang SBY lakukan. Tapi tidak, buatnya uang dan kekuasaan bisa jadi adalah penjara. Dan ia tidak ingin terperangkap dalam tatanan yang pasti membebani hidupnya. Hari demi hari harus berfikir bagaimana mempertahankan kekuasaan, itu sangat menyiksa.

Jokowi tipikal orang yang percaya bahwa manusia mati tidak membawa apa2, hanya amal baik di dunia yang akan dinilai nantinya. Bukan harta dan bukan tahta. Karena semakin kaya seseorang, semakin sulit mempertanggung-jawabkan semua dihadapan yang Kuasa.

Itulah yang membuat saya makin kagum padanya. Perasaan itu membuat saya lapar dan mengambil tahu isi yang tersisa diatas meja.

"Kamu udah makan tahu isi berapa ?" Tanya temanku yang siap membayari semua.

"Tiga.." Kataku cepat. Dan terdengar teriakan hebat dari ibu warkop yang siap dengan sapunya. "Bohonggg ! Tadi kulihat makan lima ! Bicara triliunan, makan tahu lima ngaku tiga !!"

Wah, bahaya. Kuseruput kopi yang tersisa dan menghilang di kegelapan malam meninggalkan temanku yang kebingungan..