Sabtu, 11 Agustus 2018

JANGAN JUAL NAMA AHOK

Ahok
Ahok

"Kita harus balas dendam kepada kaum kulit putih!".

Begitu teriak seorang anggota kongres berkulit hitam di Afrika Selatan. Mereka baru saja memenangkan pemilihan dengan Nelson Mandela sebagai Presiden mereka.

Alih-alih dapat pembelaan, Nelson Mandela malah marah.

"Saudaraku sekalian, selama 27 tahun waktuku dipenjara, aku mempelajari mereka. Bahasa mereka. Buku mereka. Puisi mereka. Aku harus mengenal musuhku, sebelum mengalahkan mereka. Dan kita sudah mengalahkan mereka, bukan?

Musuh kita sudah bukan lagi saudara kita sesama bangsa Afrika. Jika kita memusuhi mereka, kita akan kehilangan mereka. Kita harus lebih baik dari itu. Ini bukan waktu untuk membalas dendam. Ini waktu membangun bangsa, bata demi bata. Kalian memilih saya sebagai pemimpin, ijinkan saya memimpin kalian sekarang".

Kata-kata Nelson Mandela ini sangat berpengaruh kepada kaum kulit hitam disana. Bahkan, Francois Pienarr, kapten tim rugby yang berkulit putih, heran dan menyampaikan kekagumannya pada Nelson Mandela, "Bagaimana bisa anda menghabiskan waktu 30 tahun dalam penjara kecil dan keluar lalu memaafkan mereka yang menaruh anda disana?".

Nelson Mandela menjawab, "Memaafkan itu membuat jiwa merdeka. Itu menghapuskan ketakutan. Itulah kenapa memaafkan adalah senjata terkuat sepanjang masa.."

Dialog ini ada dalam film "Invictus", film yang menonjolkan kekuatan Nelson Mandela dalam berjuang untuk merekonsiliasi perpecahan di negaranya. Sekian puluh tahun apartheid, membuat luka menganga di dada kaum kulit hitam di Afrika Selatan. Dan Nelson menjahitnya kembali pelan-pelan.

Ketika berpidato dengan suara keras dan serak saat Ahok diputuskan masuk penjara, saya berkata, "Ahok seperti Nelson Mandela. Penjara tidak akan mengecilkan dia, bahkan akan membuatnya jauh lebih besar dari apa yang dia punya".

Saya pernah bertemu Ahok, di Mako Brimob dua kali. Saya mendengarnya bicara. Dan tampak penjara memerdekakan jiwa dia.

Saya yakin, ketika Ahok keluar nanti, ia sudah pasti akan memaafkan orang-orang yang menaruhnya disana. Karena ia seperti Nelson Mandela, baik dalam sikap maupun integritas terhadap bangsa.

Karena itu jangan jual nama Ahok, seolah-olah anda tahu siapa dia, dengan asumsi bahwa anda mewakilinya terhadap "sakit" yang dia derita.

Ahok jauh lebih besar dari jiwa-jiwa kerdil anda, yang selalu sibuk mengatas-namakannya, dan terus membenci orang-orang yang memenjarakannya. Apalagi dengan bahasa "Golput" demi Ahok yang sudah teraniaya.

Nelson Mandela berkata kepada orang-orang yang mengatasnamakannya, "Engkau berkata tanpa memahami. Engkau hanya mencari yang sesuai pembenaran prasangkamu. Itu ego. Dan itu bukan tentang bagaimana melayani negaramu".

Ahok dan Nelson Mandela adalah pribadi yang sama, jiwa yang merdeka, pribadi besar. Jangan mengecilkannya dengan bicara seolah-olah ia ingin balas dendam. Itu sangat menghinanya. Itu pasti bukan Ahok. Itu anda. Akui sajalah.

Cara menghormati Ahok adalah dengan meneruskan perjuangannya. Ia martir dalam ketidakadilan. Dan biarkan semua berproses dengan caraNya. Yang manusia harus lakukan adalah berusaha, bagaimana menang tanpa membawa dendam.

Seharusnya selain belajar pada secangkir kopi, kita juga harus belajar pada sesendok gula. Yang rela memberikan kenikmatan diantara kepahitan, meski tidak pernah disebut sebagai pahlawan.

Seruput kopinya?