Jumat, 17 Agustus 2018

Jika KH Ma'ruf Amin ke Saudi

Ma'ruf Amin
Ilustrasi

Ramai perdebatan tentang perlu tidaknya KH Ma'ruf Amin berkunjung ke Rizieq Shihab di Saudi..

KH Ma'ruf Amin memang sedang menunaikan ibadah haji. Dan rumours pun berkembang, bahwa ia akan mampir ke pertapaan Rizieq Shihab di sana.

Banyak yang mencibir, baik cebong maupun kampret. Kalau cebongers merasa bahwa kunjungan itu akan melemahkan posisi Jokowi karena kompromi dengan kaum radikal yang menganggap Rizieq Shihab sebagai junjungan. Sedangkan kampretos mencibir karena buat mereka para cebong menjilat ludah sendiri dengan "sowan" ke junjungan mereka..

Tapi itulah politik. Langkah-langkahnya tidak bisa dipandang seperti langkah benteng, yang jalannya hanya bisa lurus saja. Memandang politik itu harus seperti langkah kuda, yang bisa bergerak bebas tanpa kendala.

Bagi saya, jikapun terjadi kunjungan Kiai Ma'ruf Amin ke Rizieq Shihab, langkah itu lebih merugikan bagi koalisi oposisi daripada Jokowi. Ini memang sekadar kunjungan, bukan kompromi.

Rizieq Shihab adalah simbol bagi pendukungnya. Ia bahkan disebut sebagai Singa Allah. Nah, karena ia singa, yang datang harus pawangnya..

Datangnya Kiai Ma'ruf Amin menguntungkan dalam berbagai sisi. Pertama, ia akan dianggap banyak orang netral sebagai penyejuk suasana dan perekat persatuan antara dua belah pihak yang terbelah.

Kedua, pada posisi sebagai sesama "ulama", di hadapan KH Ma'ruf Amin, Rizieq Shihab akan berada pada posisi terendah, karena ia ulama junior. Jadi harus tunduk dong pada senior. Dan sudah pasti ia cium tangan. Di sini sudah tampak kemenangan diplomasi koalisi Jokowi.

Ketiga, belum juga berkunjung, rumours sudah berkembang dan nama KH Ma'ruf Amin disebut-sebut dalam perbincangan media sosial. Ini adalah bagian dari brand building tanpa melanggar aturan kampanye. Curi start, istilah kerennya. Dan ini adalah kecerdikan dalam pertarungan, merebut persepsi sebelum digunakan pihak lawan.

Dan tentu ini akan melemahkan mental kampretos yang sudah jatuh ketika Prabowo tidak memilih ulama sebagai pendampingnya. Satu kesalahan dari kubu Prabowo, tidak mempertandingkan "ulama" versus ulama, jadinya narasi Islam dan ulama sekarang dipegang Jokowi.

Jika melihat strategi ini secara luas, terlihat bahwa kubu Jokowi lebih siap perang daripada kubu Prabowo yang mulai gagap karena kecolongan. Jokowi berada pada posisi lebih memungkinkan untuk menyerang setelah selama ini hanya bertahan dari serangan mereka.

"Kita yang mainkan genderang, jangan selalu menari di atas genderang yang mereka mainkan...." Katanya dulu dalam sebuah pidato.

Lebih daripada sekadar fanatisme cebong dan kampret, permainan ini memang menarik untuk dilihat karena Jokowi mengubah pola serangannya. Kalau dulu dia bermain dalam posisi bertahan, sekarang dia memainkan serangan-serangan yang radikal..

"Keep your friend close and your enemy closer.." adalah salah satu strategi perang Tsun Zu.

Yang penting jinakkan, bukan malah memeliharanya sebagai peliharaan. Karena monster tetaplah monster disaat ia sedang jinak. Dan disatu kesempatan, ia bisa memakan jika majikannya lengah dan dalam kondisi lemah.

Seruput dulu kopinya..