Rabu, 01 Agustus 2018

KENAPA DOLLAR KUAT & RUPIAH LEMAH?

Dolar Amerika
Dollar
"Indonesia butuh dollar sekarang!!".

Begitu kata Jokowi hari ini. Jokowi patut panik dan kesal, karena dollar banyak menghilang dari Indonesia. Pertanyaannya, kenapa dollar menghilang dari Indonesia akhir-akhir ini?

Meskipun ada banyak faktor, kita coba belajar secara sederhana sekali. Karena kalau dengar penjelasan ekonom pasti ribet dengan bahasa Rocky Gerung yang hanya dia dan Tuhan yang mengerti..

Tahun 2008, AS krisis ekonomi. Kalau pengen tahu kenapa AS krisis, bisa nonton film "Big Short" yang keren amir. Pada masa itu ekonomi AS jatuh dan lumpuh, dan banyak pengangguran dimana-mana.

Supaya ekonomi AS berjalan lagi, pemerintah AS "mencetak" dollar sebanyak-banyaknya. Dan dollar ini kemudian diinvestasikan ke banyak negara, termasuk Indonesia. Dollar adalah mata uang dunia, dimana hampir semua negara memakainya untuk transaksi luar negeri.

Karena dollar masuk ke Indonesia, kita surplus uang dollar. Dengan banyaknya uang dollar, maka rupiah kita pun terjaga nilai tukarnya. Ekonomi stabil.

Tapi masalah datang, justru ketika AS ekonominya sudah membaik..

Karena ekonomi sudah membaik, maka AS bikin banyak program supaya dollarnya "mudik". Diantaranya menaikkan suku bunga, supaya para investor yang kemaren berinvestasi di negara-negara lain termasuk Indonesia, bisa menarik dollarnya dan kembali berinvestasi di AS.

Investor jarang yang punya nasionalisme. Nasionalisme mereka hanya "cuan" atau untung.

Jadi buat mereka, "Ah, lebih untung gua investasi di AS, cuannya lebih banyak.." Lalu ramai-ramailah mereka memindahkan uang dollarnya dari negara lain -termasuk Indonesia- dan menaruhnya di AS.

Karena uang dollar semakin lama semakin menghilang dari pasar di Indonesia, harganyapun naik dan menjadi lebih mahal. Permintaan terhadap dollar lebih banyak, daripada uang dollar yang ada. Hukum pasar berlaku disini..

Indonesia -dan banyak negara lain- jelas kelabakan jadinya. Kenapa ? Ya, karena hutang luar negeri mereka pake dollar. Jadi saat membayar cicilan, mereka harus pake dollar juga, sedangkan dollar semakin langka karena sudah pada mudik.

Itulah kenapa harga dollar menjadi tinggi. Bukan nilai rupiahnya yang lemah, tapi memang harga dollar yang naik karena persediaannya di Indonesia terbatas..

Tingginya harga dollar, membuat ekspor utama kita - seperti sawit, batubara dll - menjadi lebih mahal, karena transaksinya pake dollar. Sehingga negara-negara yang biasa beli ekspor kita, menunda pembelian. Jadinya ekspor kita melemah.

Masalahnya, kita sedang giat-giatnya membangun infrastruktur. Bahan baku infrastruktur kita, masih banyak yang impor. Jadinya, impor kita tinggi.

Bahasa tukang baksonya, "harga bikin pentol baksonya tinggi, sedangkan orang tidak banyak yang beli karena harga semangkuk bakso sekarang jadi mahal.."

Itulah kenapa Jokowi mengumpulkan para konglomerat, untuk sama-sama memikirkan situasi global ini. Jokowi minta para konglomerat itu, untuk menarik uang dollarnya dari luar negeri, taroh dulu di Indonesia, karena kita sekarang butuh dollar supaya nilai tukarnya jadi stabil. "Indonesia butuh dollar sekarang.. " Kata Jokowi.

Apakah para konglomerat itu mau?

Mungkin ada beberapa konglomerat yang nasionalis, tapi namanya pedagang, nasionalisme mereka tetap cuan. Mereka pasti berhitung, "lebih untung mana gua invest di AS, atau taroh di Indonesia?".

Pusing kan?

Yang bikin pusing lagi adalah mereka yang bahkan tidak pernah pegang uang dollar. Mereka teriak-teriak, "Dollar naik, rupiah lemah!" dengan bibir manyun-manyun kayak simpanse butuh dicium.

Padahal maksudnya apa, mereka sama sekali gak ngerti. Asal tereak, ngikutin tren supaya tampak keren. Habis itu seperti bebek, sama-sama bernyanyi di tengah sawah, "Ini karena Presidennya lemah. Ganti Presiden..".

Padahal siapapun Presidennya, meski itu Prabowo atau The Avenger sekalipun, pasti akan kelimpungan juga. Tapi mereka gak mau tahu, karena memang gak tahu.

Orang-orang seperti ini, mirip teman lelaki saya waktu kuliah dulu, yang habis ditolak cewek, tiba-tiba nyanyi "We are the Champion" nya Queen dengan airmata berderai.

Saya tanya, "Lha, kok nangis? Itu kan lagu kemenangan?" Dia kaget, "Masak sih? Kukira lagu patah hati.. Habis musiknya sedih banget sih.."

Mau tepok jidat, tapi tangan saya lagi megang secangkir kopi.