Rabu, 15 Agustus 2018

KETIKA BIDAK KUDA MEMAINKAN LANGKAHNYA

Ma'ruf Amin dan Jokowi

Tiba-tiba suara tenang...

Padahal sudah mendekati Pilpres 2019, dimana seharusnya saat ini sudah ribut perang opini dan suara-suara kelompok oposisi yang membangun narasi "agama".

Amien Rais entah dimana, mendadak hilang seperti ditelan bumi. Dari Saudi, Rizieq Shihab mendadak bisu dan tanpa omongan berarti. Eggy Sudjana kelu lidahnya. Si Gatot al Khotot, mungkin sedang sibuk mencuci gamisnya. Si TengkuZul pun sekarang ngetwit lumayan sopan..

Kelompok 212 yang biasanya sangat berisik dan takbir sambil diliput media, mendadak senyap, seperti kumpulan gagak di waktu malam.

Ruang media kita yang biasanya penuh dengan polusi narasi-narasi perang badar, perang uhud bahkan perang dajjal, tiba-tiba bersih dan nyaman untuk bernafas. Paling cuma Neno Warisman yang sibuk dengan "Ganti Presidennya" meski sekarang wujud Presiden sudah jelas. Tapi itupun tidak banyak pengaruhnya...

Ini semua karena KH Maaruf Amin, kartu as yang dimainkan..

Semua menjadi sungkan. Mungkin takut, karena salah membully sedikit kyai sepuh yang dihormati NU, Banser bisa turun tangan. Dan simbol itu ada disamping Jokowi sekarang. Narasi "agama dan ulama" yang sudah lama mereka siapkan, mulai disimpan dilaci-laci berdebu yang nanti lima tahun kedepan akan dibuka kembali..

Akhirnya kita bisa perang opini tentang ekonomi, tentang program, tentang hal-hal yang wajar dan biasa, bukan tentang agama. Mereka mati langkah, bingung dan gamang untuk bicara ekonomi karena itu narasi yang belum mereka siapkan dgn matang..

Tidak mudah mengambil keputusan yang tepat. Karena yang tepat itu belum tentu menyenangkan.

Dan harus diakui, dibalik semua kegalauan dan kebaperan yang terjadi, ternyata ada hal penting yang terlewat, yaitu menyelamatkan pesta demokrasi supaya kembali pada relnya.

Tidak dikotori oleh propaganda2 yang merobek kesucian agama. Tidak akan ada lagi penghinaan terhadap ayat yang dipakai untuk ambisi berkuasa, ataupun untuk menjatuhkan sesama..

Inilah kemenangan langkah yang elegan. Mengancam lawan dengan senjata pamungkasnya. Lawan bungkam. Bahkan bernafaspun sesak dan ludah tercekat dikerongkongan..

Belum selesai. Akan ada satu lagi langkah mematikan yang membuat banyak orang bertekuk lutut dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah..

Yaitu ketika Imam Besar mereka dijenguk oleh orang yang lebih dihormati dan terpaksa mencium tangan lawan politiknya, bukan memeluk tubuh seperti yang biasa ia lakukan..

Lihat saja..

Sementara itu kita seruput kopinya.