Rabu, 15 Agustus 2018

KETIKA PAK MAHFUD CURHAT

ILC
Mahfud MD

Video curhatnya pak Mahfud MD di ILC lewat di beranda beberapa kali..

Ia bercerita tentang kronologis situasi yang membuatnya tidak terpilih menjadi Cawapres Jokowi. Bahkan pak Mahfud menyebut nama-nama yang membuatnya sakit hati, meski ia ucapkan dengan nada tertawa, tapi kita merasakan getirnya nada yang tidak bisa disembunyikannya..

"Saya tidak kecewa. Saya hanya kaget.." Begitu katanya berulangkali. Pernyataan yang bertolak belakang dengan kenyataan. Jika hanya kaget, ia tidak mungkin curhat sepanjang itu di depan televisi nasional lagi. Ia kecewa. Sangat kecewa. Hanya saja ia ingin tampak gagah menceritakannya..

Apakah saya ikut trenyuh mendengarkan curhat beliau ? Sebagian diri saya mungkin, tapi sebagian lagi ternyata tidak..

Saya trenyuh, karena saya pasti akan kecewa ketika diangkat, terus dibanting lagi seperti yang didapatkan pak Mahfud MD.

Tapi jika saya seorang Mahfud MD, saya tidak akan mungkin curhat sepanjang itu, disebuah televisi nasional, yang jelas pro pada lawan politik Jokowi, dan membuka aib dimana saya akan menjadi tim suksesnya nanti.

Pahit memang. Tetapi pahit itu harus saya telan dan tidak mungkin saya ungkapkan kedepan publik, apalagi dengan sorot kamera yang terus mencari celah untuk membuat drama supaya situasi makin berpihak kepada lawan politik orang yang harus saya sukseskan nanti.

Setidaknya jika saya seorang Mahfud MD, saya akan bicara dengan gagah, dan penuh senyum bicara bahwa itu strategi politik saja supaya pihak lawan salah memilih pasangan.

"Dan kami berhasil..." begitu kata saya jika saya Mahfud MD didepan stasiun televisi dengan penuh kemenangan, yang membuat lawan jatuh mental. Karena saya tahu, bahwa pilpres ini adalah pertarungan, jadi yang harus saya pompakan ke pemilih Jokowi nantinya adalah kekuatan, bukan pelemahan.

Kenapa ? Karena saya setuju menjadi tim sukses beliau, jadi harus berbicara untuk kemenangan beliau. Beda jika saya adalah tim sukses lawan, saya akan membuka aib itu segamblang-gamblangnya untuk menghancurkan nama Jokowi karena perilaku koalisinya.

Pak Mahfud jujur, itu sangat bagus. Tetapi politik membutuhkan strategi dan saya rasa itu yang pak Mahfud tidak punyai. Kapan saat kita bicara, kapan saat kita tampil, dan apa narasi yang harus kita bawakan, itu yang penting.

Saya juga harus jujur seperti pak Mahfud, bahwa sesudah beliau curhat panjang didepan televisi, saya malah bersyukur beliau tidak terpilih jadi Wapres. Maaf, ya pak..

Saya sulit membayangkan, ketika banyak langkah pak Jokowi yang tidak sesuai dengan beliau saat menjadi Wapres, pak Mahfud akan curhat lagi ke media mengungkapkan kekecewaannya. Dan itu berbahaya, karena seperti dua kepala bertolak arah. Bahkan bisa jadi malah ada "matahari kembar" di pemerintahan..

Mungkin ada saatnya peristiwa menyakitkan dibuka. Misalnya ketika sudah pensiun dari politik dan menulis buku tentang "apa yang sebenarnya terjadi dan tidak terlihat didepan publik". Setidaknya itu menunjukkan kelas kita sebagai seorang yang mengemban tugas yang diberikan.

Menjadi tokoh itu sulit. Tetapi menjadi negarawan itu jauh lebih sulit.

Saya ingat film The Sum of All Fears, ketika Presiden Rusia ditanya oleh ajudannya, "kenapa mengakui didepan publik bahwa engkau membom Cechnya padahal bukan kau yang melakukannya ?"

Presiden Nemerov berkata, "Lebih baik orang melihat saya kejam, daripada mereka melihat saya lemah.."

Saya rasa secangkir kopi bisa menjadi pelajaran, bahwa pahitnya adalah kejujuran yang harus kita rasakan, tetapi kita bilang ke semua orang, "kopi ini nikmat sekali.."

Seruput..