Selasa, 21 Agustus 2018

KURBAN

Idul Adha
Hewan Qurban

"Kita kadang masih sulit menempatkan secara tepat antara nilai spiritual dan nilai ritual.."

Temanku membuka pembicaraan sore ini, saat kami bertemu di sebuah warung kopi.

"Kadang sesuatu yang sifatnya spiritual menjadi berkurang nilainya ketika kita menjadikannya ritual. Naik haji, contohnya. Ini perintah yang mempunyai nilai spiritual yg sangat tinggi. Sebuah penyerahan total, sebuah penghambaan, melepaskan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi.

Tapi banyak kita lihat perintah ini menjadi sebuah ritual untuk menggugurkan kewajiban. Ketika sudah ber-haji, kita merasa selesai sudah melaksanakan semua perintah Tuhan. Balik ke rumah, hilang semua nilai spiritualnya, yang tertinggal hanya gelar..."

Aku menyimak dengan baik sambil sesekali menyeruput kopi panasku. "Apa yang membedakan antara seseorang yang mengerjakan perintah dengan nilai spiritual dan ritual ?" Tanyaku.

"Ahlak.." Jawab temanku dgn lugas. "Ketika seseorang sudah mampu secara total melepaskan baju duniawinya dan menghamba kepada Tuhan, maka secara otomatis perilakunya berubah. Dan perilaku itu sudah seharusnya tampak jauh sebelum ia ber-haji, bukan sesudahnya."

"Maksudnya ?" Tanyaku heran.

"Kita melihat ada konsep jika mampu dalam berhaji, maka kita jangan batasi mampu dalam sifat materi, tetapi lebih jauh lagi, yaitu mampu secara spiritual.

Orang yang sudah pada taraf mampu secara spiritual, berarti ia sudah mampu meninggalkan sifat duniawinya. Ia akan melihat dulu dirinya sendiri, sudah mampukah saya menghamba. Dan ia akan melihat orang di sekitarnya, sudah mampukah saya menolong mereka.

Jangan sampai ia mampu berhaji tapi orang sekitarnya kelaparan dan butuh bantuan. Ia bahkan tidak mau menolong mereka, karena ia mendahulukan dirinya sendiri. Ketika hasrat berhaji itu lebih mendesak daripada kewajibannya menolong orang lain, maka ia belum mampu meninggalkan sifat duniawinya yang egois..."

Tercekat rasanya tenggorokan mendengar kalimat itu. Rasanya kopi menjadi begitu pahit.

"Menolong orang lain yang membutuhkan itu adalah sebuah kewajiban bagi manusia yang beriman. Nilai spiritualnya sangat tinggi, karena disitu-lah terletak ketakwaan kepada Tuhan dan keadilan kepada sesama manusia..."

Semakin menarik pembahasan ini. Temanku menarik kursinya ke belakang dan mengambil kopinya, sambil tersenyum dan melanjutkan.

"Jadi, temanku.. Semoga ini bisa menjawab pertanyaanmu, yang mana harus kamu dahulukan antara menolong saudaramu yang sedang membutuhkan atau membeli hewan kurban...

Lihat dulu dirimu, apakah kamu punya hutang kepada seseorang? Bayarlah, jangan sampai ia marah kepadamu karena kamu bisa membeli hewan kurban tapi tidak bisa membayar hutangmu, berarti kamu tidak adil kepadanya. Atau jika kamu menemukan orang yg sangat membutuhkan uangmu, bantulah ia terlebih dahulu.

Kemampuanmu membantunya dengan mengurbankan kurbanmu adalah kurban atas kurban itu sendiri...."

Saatnya saya mengangkat cangkir kopi ini untuknya.