Rabu, 29 Agustus 2018

PELUKAN HANIFAN

Jokowi
Prabowo-Jokowi
Kerinduan Hanifan bisa jadi adalah kerinduan kita semua. Hanifan Yudani Kusumah, pesilat yang baru saja meraih medali emas, mendadak memeluk Jokowi dan Prabowo bersamaan.

Dan momen ini seperti membuat waktu berhenti sejenak. Membawa kita kembali ke waktu awal dimana kita berselisih tentang pilihan. Bahwa sesungguhnya, diantara jurang perbedaan yang melebar, kita semua adalah saudara..

Gemuruh suara penonton yang mengabadikan momen berharga ini menyadarkan kita, "Apakah benar semua keributan ini yang kita inginkan ?"

Ataukah kita sebenarnya ingin kembali ke masa kanak-kanak, dimana kita tidak pernah lama berselisih tentang suatu hal. Ribut itu biasa, tetapi kita akhirnya kembali bermain bersama sesudah mencantelkan jari kelingking tanda berbaikan dan kemudian tertawa lebar seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Dendam ? Kita dulu bahkan tidak pernah tahu bagaimana bentuknya..

Euphoria politik di negeri bayi ini, pernah meruncing pada titik potensi kerusuhan tertinggi. Ketika ayat dan mayat mulai dimainkan, permainan dirasa sudah tidak asik lagi.

Ini bukan lagi ejekan bersenda gurau seperti istilah cebong dan kampret yang menjadi bahan candaan. Tetapi sudah menjurus kepada perpecahan yang berpotensi meluas pada kerusuhan. Kita pernah melewati situasi tergenting dalam sejarah perpolitikan kita.

Hanifan mungkin seperti banyak dari kita, rindu akan adanya perasaan bahwa kita sejatinya adalah saudara, saudara sebangsa bangsa Indonesia, sebahasa bahasa Indonesia, setanah air tanah air Indonesia.

Tidak ada dikotomi mayoritas minoritas. Tidak ada yang sibuk menanyakan, "Agamamu apa ?"

Dan melihat Jokowi dan Prabowo disampingnya, ia seperti mengadu, "Aku lelah. Aku ingin negeri ini kembali seperti masa kecilku dulu lagi yang penuh warna warni dan tidak hanya hitam putih.."

Pelukan Hanifan mungkin tidak banyak berarti sekarang ini, karena situasi politik tentu akan kembali memanas lagi. Momen Asian Games terdahsyat ini akan terlupakan oleh bergeraknya zaman.

Tetapi setidaknya akan menjadi pengingat anak cucu kita yang kelak akan menjadi pemimpin nanti, bahwa kita pernah mengalami situasi pahit dalam usaha merajut perbedaan kembali. Dan jangan pernah diulangi..

Hanifan mungkin meraih medali emas. Tetapi emas sesungguhnya adalah sebuah pesan, "Kembalilah pada jati diri kita. Jangan lupa siapa kita sesungguhnya". Seperti pencak silat yang ia mainkan, yang merupakan olahraga tradisional asli Nusantara.

Jika Hanifan membawa pesan dengan pencak silatnya, saya cukup dengan secangkir kopi saja. Begitu banyak perbedaan dan nama, kita harus tetap ingat, bahwa sejatinya kita berasal dari buah yang sama..

Seruput kopinya.