Rabu, 08 Agustus 2018

PRABOWO BINGUNG, SBY BERHITUNG

Politik
SBY dan Prabowo

"Politik adalah seni kemungkinan..". Meski kita melihat ada kekompakan pada team oposisi bersamaan dengan pertemuan SBY dan Prabowo, sebenarnya titik ketegangan justru berada disana..

Dari luar kita melihat, bahwa ada koalisi Demokrat-Gerindra yang akan melahirkan pasangan Capres Prabowo-AHY. Tapi ternyata tidak semudah itu.

Terutama bagi Prabowo..

Dari "bisik-bisik tetangga", SBY punya rencana lain yang menurutnya jitu, yaitu mengawinkan Anies-AHY. Menurut SBY, Prabowo sudah usai dan pasti akan kalah. Karena itulah ia ingin ada pasangan lain untuk memenangkan pilpres ini. Dan itu adalah kedua pasangan muda untuk melawan Jokowi.

SBY bisa memberikan tekanan itu kepada Prabowo, karena Gerindra sedang dalam posisi tidak punya logistik untuk Pilpres nanti. Dan mereka datang ke Demokrat menawarkan kursi bagi AHY -anak kesayangan pepo dan memo- dengan imbalan logistik harus siap untuk pertarungan.

Memangnya Anies bisa maju sebagai Capres? Kan waktunya sudah tidak cukup jika harus minta ijin ke Presiden?

Bisa. Ada 2 skenario yang akan dijalankan SBY. Pertama, Anies mundur dari Gubernur dan DKI akan diserahkan kepada Gerindra melalui Sandiaga Uno. Jika Anies mundur, maka dia tidak perlu minta ijin pada Presiden.

Kedua, oposisi tidak akan mengajukan pasangan Capres lawan Jokowi. Dengan begitu, hanya ada satu pasangan Capres pada tanggal 4-10 Agustus. Dan jika hanya satu paslon, maka pendaftaran akan diperpanjang 14 hari. Ini cukup waktu bagi Anies untuk minta ijin ke Presiden.

Jadi, paham kan? Bentar seruput kopi dulu..

Oke, lalu bagaimana nasib Prabowo?

Sebenarnya masalahnya bukan di nasib Prabowo, tapi bagaimana nasib Gerindra jika Prabowo tidak nyapres?

Seperti kita tahu Pileg dan Pilpres akan berbarengan. Dan jika Prabowo tidak nyapres, maka sudah dipastikan suara Gerindra hancur-hancuran saat Pileg nanti.

Ya, Prabowo adalah marwah Gerindra. "Gak ada elu, gak rame.." begitu kata simpatisan Gerindra yang akan mencoblos di pemilihan legislatif nanti. Dengan Prabowo tidak ada, maka banyak pemilih Gerindra akan mencoblos partai lain.

Jika di tahun 2019 nanti suara Gerindra hancur, maka tahun 2024 nanti, mereka tidak akan dihargai sebagai partai besar dan gampang dimainkan. Gerindra bisa kacau, bahkan akan dikuasai lawan, seperti Golkar ketika Aburizal Bakrie tidak jadi Nyapres, yang akhirnya pecah dan dikuasai pihak seberang..

Ini buah similikiti bagi Prabowo. Dimakan, kampret mati. Gak dimakan, kampret mati juga. Jadi kampret emang susah banget hidupnya yak.

Prabowo harus menghitung mana kerugian paling besar sebelum mengambil keputusan. Dan jelas, kerugian paling besar adalah ketika Gerindra hancur lebur..

Prabowo harus memaksakan diri untuk Nyapres, untuk menyelamatkan Gerindra. Dan jika Demokrat tetap tidak setuju, maka Gerindra akan berpasangan dengan PKS, kemungkinan besar Prabowo-Salim Segaf al Jufri dari PKS.

Mungkin juga PKS menawarkan Anies. Tapi Anies terlalu gengsi untuk jadi Cawapres. Wong, mimpinya jadi Presiden.

Sedangkan Demokrat tidak mungkin hanya berpasangan dengan PKS, karena tidak cukup suara.

Loh kan masih ada tambahan kursi dari PAN??

Hehe, PAN realistis aja. Mereka sudah menghitung tidak mungkin menang jadi oposisi. Jadi, daripada kering kerontang selama 5 tahun, ya gabunglah dengan Jokowi. Nanti Amien Rais pasti akan bilang sambil senyum-senyum manja, "Saya kemaren cuman guyon aja.."

Itulah kenapa Fadli Zon memaksa supaya Prabowo deklarasi sebagai Capres secepatnya. Karena jika tidak, maka dia bisa tersingkir dari jabatan Wakil Ketua di partai. Lha, udah gak ada Prabowo, gak ada lagi tempat bergantung.

Kebayang kan sumpeknya sempak di kubu oposisi?

Karena itu, mari kita berdoa pada Tuhan supaya warga Lombok yang terkena musibah gempa segera mendapat pertolongan dan situasi segera aman.

"Lho bang, apa hubungannya ama situasi Prabowo??"

"Emang gua pikirin!!"

Mending minum kopi..