Minggu, 19 Agustus 2018

PRESIDEN GUA... !

Jokowi
Jokowi

"Cool..."

Kata anak perempuanku saat menonton pembukaan Asian Games 2018 kemarin malam. Anak perempuanku berusia 18 tahun, generasi milenial yang juga pemilih pemula di Pilpres 2019 nanti.

Jarang dia memberikan apresiasi. Standar generasi milenial terhadap sesuatu sudah sangat tinggi, karena mereka berinteraksi dengan dunia internet yang penuh dengan tayangan berkelas internasional.

Pemilih milenial yang berusia 17-29 tahun, berjumlah sekitar 15-20 persen dari jumlah pemilih nasional. Merebut perhatian mereka tidak mudah, karena banyak dari mereka yang apatis terhadap politik.

Bahkan salah seorang teman pemilik jaringan media radio besar di Jakarta berkata, "Jangan bicara politik ke anak muda. Buat mereka politik itu identik dengan rusuh dan kebencian, karena itu mereka menolak. Mereka ingin yang fun..".

Karena apatis inilah, pemilih milenial cenderung mengikuti apa kata orangtua maupun teman. Mereka dikategorikan "pemilih galau". Besarnya prosentase pemilih milenial, membuat mereka menjadi rebutan dalam pilpres sebentar lagi.

Saya harus angkat secangkir kopi terhadap usaha cerdas Jokowi menggaet pemilih milenial. Dia menggunakan ajang Internasional sebagai sebuah cara untuk menggaet mereka.

Dan Jokowi berhasil.

Pemilih milenial banyak yang melihat Korea Selatan sebagai patokan. Itu berkaitan dengan budaya K-Pop yang fenomenal. Dan ketika Korsel memuji Jokowi, bahkan acara pembukaan Asian Games menjadi trending topik disana, itu sangat mempengaruhi pemilih milenial di Indonesia.

Mereka bangga ketika nama Indonesia disebut, dan Jokowi menjadi pusat perhatian dengan aksi dramatisnya naik motor layaknya film kelas mahal. Jokowi menjadi "sangat milenial" dengan gayanya itu. Ia menjadi antitesa dari gaya Presiden di banyak negara yang cenderung tampil kaku dan "tidak muda".

Keberhasilan team acara dalam pagelaran Asian Games yang memadukan budaya dan teknologi, membuat pemilih milenial di Indonesia mulai melirik Jokowi sebagai wakilnya karena ia menunjukkan "bahasa" yang sama dengan mereka.

Jokowi memang pintar memilih tema dalam membangun panggung dirinya. Dan ini bukan yang pertama. Saat dia menjadi Walikota Solo, dia berhasil merebut hati banyak pemilih dengan membuat acara arak-arakan bergaya festival jalanan saat memindahkan pedagang dari taman Banjarsari.

Dengan model arak-arakan bergaya keraton itu, Jokowi sekali menepuk dapat dua lalat. Pertama, ia berhasil memindahkan pedagang yang sudah puluhan tahun berada disana dengan kebanggaan. Dan kedua, ia berhasil menarik perhatian nasional.

Jokowi memang bukan tokoh baliho, yang mengangkat citra diri dengan wajah dimana-mana berharap itu mempunyai pengaruh besar orang untuk memilih. Ia seorang "story teller" pencerita yang baik yang membangun brandnya dengan kreatif.

Motor besar dipilih - bukan kuda dan kereta kencana - sebagai pemikat, karena menggambarkan sosok "gagah, muda dan kekinian". Masih ditambah atraksi lompat tinggi untuk menambah daya dorong terhadap citra diri. Ia adalah seorang entertainer sekaligus seorang pemimpin yang bervisi.

Selain Soekarno, belum ada pemimpin yang multitalenta seperti Jokowi.

Ini semua memang tentang "bagaimana bercerita". Sesuatu yang banyak dilupakan oleh banyak tokoh yang ingin merebut simpati dengan gaya lama, tampil dengan bahasa iklan. Jokowi memainkan model komunikasi marketing dengan handal.

Perhatikan, pernahkah kita menemui foto wajahnya di baliho di titik- titik strategis yang berharga mahal ? Tidak pernah, karena itu memang bukan gaya dirinya. Ia memanfaatkan momen yang ada dan mengemasnya dengan gaya berbeda.

Dan ketika ia membangun panggung, ia harus memastikan semua mata memandang kepadanya..

Para tokoh politik harus banyak belajar pada Jokowi. Meski tampilannya ndeso, ia berhasil memikat kaum urban perkotaan yang terbiasa dengan gemerlapnya lampu kota metropolitan.

Gaya marketing Jokowi di dunia politik seharusnya bisa menjadi inspirasi bagi akademisi dan praktisi dibidang pemasaran atau komunikasi, untuk menulis bagaimana menjual diri lewat sebuah atraksi..

Prabowo jelas kalah disini, karena ia tampak "oldschool" dengan gaya berkuda dan keris yang tidak sesuai dengan zamannya. Sudah bukan masanya lagi menjual "gagah dengan seragam tentara". Ini masa teknologi sudah menjadi candu bagi generasi muda.

Sekarang ini, menyebut nama Jokowi sebagai "Presiden gua !" adalah kebanggaan bagi generasi milenial ketika teman-teman onlinenya di dunia internasional memuji, "Gilaaa. Presiden lu keren abesss.."

Seruput dulu kopinya..