Sabtu, 18 Agustus 2018

RIZIEQ SHIHAB, TOKOH POPULER TANPA PENGARUH APA-APA

Fadli Zon
Habib Rizieq, Fahri Hamzah dan Fadli Zon

Dari banyak tokoh di Indonesia, terus terang saya paling iba sama satu tokoh ini..

Namanya Rizieq Shihab. Dia sekarang tinggal di Saudi. Jauh dari kampung halaman, tempat kelahiran dan saudara-saudara dekatnya sendiri.

Anda bisa bayangkan perasaan rindu yang ada didadanya, tapi dia tidak mampu luapkan karena ternyata ada perasaan yang lebih kuat daripada sekedar rindu. Yaitu, takut kasus lamanya dibuka kembali..

Kasus aib inilah yang bisa membuat seorang Rizieq Shihab, yang digelari Singa Allah oleh pendukungnya, mampu bertahan sekian lama ngungsi di luar negeri. Kalau kasus penghinaan, tudingan makar dan sebagainya, dia bisa hadapi dengan gagah. Tapi kalau sudah aib, mau dibawa kemana muka?

Mungkin ia tidak begitu, mungkin juga ia terlalu takut akan bayangan ketakutannya sendiri..

Tapi belum cukup rasa iba saya, ada hal yang membuat saya lebih jatuh iba padanya..

Rizieq Shihab selama disana dimanfaatkan betul oleh banyak tokoh untuk menaikkan pamor mereka. Ya, Rizieq bisa dianggap sebagai "asset", cara murah untuk menaikkan brand seseorang.

Apalagi saat musim politik, nama Rizieq - bagi sebagian orang - adalah jaminan. Mau jadi Presiden, kunjungi Rizieq. Mau jadi Gubernur, datangi dulu Rizieq. Sekarang mendekati Pileg dan Pilpres, kunjungan ke Rizieq semakin gencar.

Gak setuju dengan pandangan saya ? Silahkan. Tapi itulah yang terjadi. Hukum pasar berlaku disini. Ada penawaran, ada permintaan. Ada penjual, pasti ada pembeli.

Rizieq memang punya banyak pengikut. Lebih banyak lagi adalah simpatisan. Tapi pengikut dan simpatisan itu hanya diperlakukan sebagai "pasar" saja oleh tokoh-tokoh yang mengunjunginya.

Mereka bukan penentu keputusan. Kalau kata orang, hanya dipake untuk dorong mobil mogok. Kalau sudah jalan, ya ditinggal. Sambil ucapkan terimakasih, dadah dadah, sambil senyum lebar, dan menghilang..

Gak percaya ? Lihat saja kasus La Nyala Matalitti, calon Gubernur Jatim pada waktu itu. La Nyalla sudah pede sekali membawa dukungan Rizieq dari Mekkah, lengkap dengan poto berdua yang menggambarkan "eratnya hubungan". Tapi apakah Gerindra mau berikan dukungan ? Entar dulu. Itu masalah berbeda..

Tokoh yang jauh lebih tinggi kedudukannya dari La Nyala Matalitti juga banyak. Prabowo pernah kesana. Amien Rais juga.

Tapi kunjungan kedua tokoh oposisi itu apakah mempengaruhi pilihan pendamping Prabowo sesuai himbauan Rizieq ? Tidak juga. Tetap aja yang dipilih yang bisa nabok dengan gemulai. Seruan Rizieq kembali "dikacangin". Jadi disini ada perbedaan besar antara popularitas dan pengaruh. Populer belum tentu berpengaruh.

Disinilah saya merasa ada yang "salah" dari orang2 disekitar Rizieq Shihab, yang selalu memanfaatkan namanya, tapi tidak mendengarnya.

Rizieq jadi seperti nama jalan Malioboro di Jogjakarta, dimana setiap orang kesana pasti bangga foto dibawah nama jalannya. Untuk belanja, sih nanti dulu. Soalnya sekarang disana apa-apa mahal..

Saya menulis ini bukan untuk mengejek, apalagi menghina. Justru ini ungkapan terjujur dari orang yang perduli, diluar dari orang disekitarnya yang selalu memuji. Mungkin menyakitkan hati, tapi setidaknya bisa membuatnya berfikir untuk mulai menata diri kembali.

Kecuali ada transaksi jual beli, yah, mau gimana lagi?

Mungkin kapan-kapan saya ingin ngopi dengan beliau. Sekedar untuk mendengar banyak cerita tentang apa yang terjadi disana. Berdua saja. Biar jika ada cerita kesedihan yang menusuk, saya bisa sediakan bahu yang bidang untuk mencurahkan segala perasaan..

Mungkin disana saya akan mulai memanggilnya Habib, karena gelar Habib itu berarti "kecintaan". Dan siapa tahu saya jatuh cinta sesudah mendengar "petuah-petuah sejuknya"..

Seruput dulu ah kopinya.