Minggu, 05 Agustus 2018

TOLAK POLITISASI MASJID DI PILPRES 2019

Kelompok Radikal
Politisasi Masjid

"Ayo kita belajar dari Jakarta untuk kalahkan mereka di Pilpres nanti!". Begitu seru Rizieq Shihab, dari tempat kaburnya di Arab Saudi sana. Seruan Rizieq ini dijadikan motivasi bagi pendukungnya untuk menjadikan Indonesia seperti Pilgub DKI di tahun 2017, dimana mereka menggunakan agama sebagai "alat perangnya" demi mencapai tujuan politik mereka.

Dan kita masih terbayang betapa mengerikannya Pilgub DKI lalu. Masjid, yang seharusnya menjadi tempat ibadah kepada Tuhan dan tempat perlindungan pertama jika terjadi musibah, malah dijadikan alat untuk menghantam sesama..

Pada waktu itu, di beberapa masjid Jakarta, terpampanglah spanduk-spanduk yang melarang untuk menyolatkan orang yang meninggal yang berbeda pilihan.

Terjadi ketegangan antar sesama muslim sendiri, karena mereka merasa berhak atas masjid sebagai tempat mereka beribadah. Tetapi ternyata masjid dikuasai oleh antek-antek yang bernafsu untuk menduduki jabatan. Orang-orang yang merasa paling berhak atas Tuhan dan agama, dengan mengangkangi semua atas nama kuasa.

Bukan itu saja..

Ceramah-ceramah pada waktu shalat Subuh dan shalat Jumat, bernada provokasi. Dan ini disebarkan melalui pengeras suara ke banyak penjuru Jakarta. Intimidasi mereka lakukan, bagi siapa yang memilih pemimpin yang tidak disetujui mereka, kafir hukumnya.

Meskipun itu sesama muslim, buat mereka tidak ada bedanya..

Untung saja Pilgub DKI berjalan dengan aman. Banyak muslim yang tidak setuju dengan mereka mengalah, sehingga tidak terjadi bentrokan berdarah yang bisa membuat rusuh ibukota.

Kita semua menahan diri supaya negeri ini tetap aman. "Jabatan bukanlah segalanya.." begitu kata almarhum Gus Dur waktu turun dari singgasananya.

Tapi hal ini tidak bisa dibiarkan terus...

Mereka akan kembali mengulang situasi yang sama, karena sudah merasakan lezatnya kemenangan dengan menggunakan agama. Dan perintah Rizieq Shihab itu mereka jadikan sebagai sinyal untuk mengulangi hal yang serupa.

Pak Tito Karnavian, Kapolri, saya memohon dengan sangat, jangan lagi ada kelompok yang bisa menjadikan tempat ibadah dengan seenak udelnya mereka. Berikan tindakan keras, bahwa siapapun yang menggunakan tempat ibadah sebagai alat politik, akan menuai akibatnya. Dan kepolisian harus mengawasi ini dengan seksama..

Peringatkan, siapapun yang menggunakan masjid sebagai alat politik praktis, baik itu melalui spanduk, ceramah, pengajian, akan menerima sanksi hukum yang keras dari kepolisian.

Dan polisi siap membentuk team pengaduan di seluruh wilayah Indonesia, jika ada warga yang mengadukan tempat ibadahnya dijadikan sarang gerombolan.

Hal ini penting sekali, karena kita tidak ingin mengulang situasi yang sama dengan Pilgub DKI dengan kerusakan yang jauh lebih parah.

Warga daerah belum tentu bisa sedewasa warga muslim DKI yang menahan tangannya supaya tidak terjadi bentrokan. Bisa saja di daerah, mereka tidak mampu menahan amarahnya ketika masjid dipakai oleh kelompok yang berbeda pilihan.

Mencegah lebih baik daripada mengobati, begitu kata pepatah. Kita sudah ada peristiwa yang bisa kita pelajari dan ambil hikmahnya.

"Belajarlah..." Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari ketika kerusuhan akibat perbedaan politik meluas dan membakar Indonesia..

Pemilihan Presiden tahun 2019 ini akan jauh lebih panas dari periode sebelumnya. Ini karena HTI sedang dendam-dendamnya kepada Jokowi, dan ingin melakukan pembalasan karena organisasi mereka dibubarkan..

Semoga pak Tito membaca surat ini. Dan semoga kita menjaga negeri ini bersama-sama supaya lebih baik ke depannya.

Kita tidak cari musuh, kita tidak bermain fitnah, dan tidak membangun ujaran kebencian. Tapi kalau mereka begitu, mengunakan tempat ibadah untuk kepentingan politik mereka, gua siap berkelahi.

Gua sudah muak agama gua dijadikan tameng untuk saling membenci.

Benar begitu? Seruput kopinya.