Kamis, 23 Agustus 2018

Wahai Yang Merasa Minoritas, Belajarlah Pada Mazhab Syiah

Syiah
Syiah Sampang

Jika ingin tahu bagaimana rasanya kaum minoritas, tanya pada mereka yang bermazhab Syiah. Di Indonesia ini, banyak yang tidak mengakui bahwa mereka muslim. Padahal mazhab Syiah, adalah mazhab dalam Islam terbesar kedua di dunia sesudah sunni. Merekapun shalat, puasa dan berhaji seperti muslim lainnya.

Tapi disini, mereka terus menerus dipersekusi. Dipinggirkan. Dihantam. Bahkan dibubarkan ketika mengadakan hari besar. Di Sampang, bahkan mereka diusir dari tanah kelahiran. Sejak tahun 2012, mereka hidup dalam pengungsian. Jangan tanya penderitaan dan rasa kehilangan mereka. Kalian gak akan kuat, percayalah.

Tapi apakah mereka cengeng dan selalu mengeluh, "Kami minoritas.." dengan airmata bercucuran dan perasaan yang tertekan?

Saya pernah ngobrol dengan salah satu warga Syiah di Sampang. Dia tersenyum walau hatinya pasti pahit dengan rasa kehilangan.

"Bagi kami, semua itu adalah kenikmatan dalam perjuangan. Karena tanpa perjuangan, kami bukan apa-apa. Jika semua sempurna, kami tidak akan ada. Apa yang kami dapatkan sekarang, tidak ada artinya dengan apa yang didapatkan Imam Hussain, saat ia dan keluarganya diburu dan dibantai oleh puluhan ribu pasukan yang mengaku mengikuti agama kakeknya, Nabi Muhammad SAW.."

Saya tercengang mendengarnya. Bagaimana bisa ada orang yang menikmati kesulitan disaat orang lain menghindarinya? Ternyata kesulitan itu bukan melemahkan mereka, tetapi justru menguatkan. Karena itulah namanya perjuangan. Bukan hasilnya yang dinilai Tuhan, tetapi usahanya. Prosesnya. Dan disanalah nilainya.

Dan dalam setiap perjuangan, tentu ada korban, ada kegagalan juga keberhasilan..

Seandainya negeri ini menerima mereka dengan tangan terbuka, tentu mereka tidak akan pernah merasakan kenikmatan dalam perjuangan. Dahsyat, bukan?

Obrolan pendek itu menginspirasi saya dalam menulis. Makanya saya tidak cengeng ataupun baper karena terus menerus dihina, dilecehkan. Bahkan ketika sudah terbiasa, saya menganggap itu guyonan. Namanya perjuangan harus keras. Kalau lembek namanya ketidakngacengan.

Jadi, jangan sedikit-sedikit berkata, "Kami minoritas..". Itu desahan anak manja. Nikmati semua kesulitan sebagai bagian dari perjuangan. Dan bergeraklah bukan karena kamu minoritas, tetapi karena tanggung jawabmu sebagai anak bangsa. Konsep minoritas itu adalah kekalahan dalam pikiran.

Hukum di negeri ini memang sedang sakit karena sudah lama terjadi pembiaran. Yakin bahwa pengadilan kita bersih dan suci dari bibit intoleransi ? Untuk menyembuhkannya, tentu butuh pengobatan bertahap. Bergeraklah, desak pihak-pihak terkait untuk mulai membenahi internal mereka.

Tahukah kalian, bahwa pahit dalam secangkir kopi itu justru adalah pusat kenikmatan? Tanpa rasa pahitnya, kopi tentu tidak akan seterkenal ini sampai dijadikan filosofi segala.

Seruput kopinya, wahai para pejuang?