Selasa, 11 September 2018

Keripik Tempe Sandiaga Uno

Prabowo
PADI

"Tempe sekarang setipis ATM.."

Begitu tulis Sandiaga Uno sambil memamerkan ATM dan tempe di salah satu akun media sosialnya. Sontak tulisan Sandiaga Uno ini menjadi viral dan dikutip banyak pendukung Jokowi dengan caption melecehkan karena apa yang ditulis tidak sesuai dengan kenyataan.

Saya tidak ingin mengomentari komentar Sandi ini. Saya hanya ingin memberikan sedikit pandangan terhadap "strategi marketing" yang dilakukan Sandi terkait pertarungan Pilpres 2019 dimana dia menjadi Cawapres Prabowo Subianto.

Ini bukan komentar "receh" pertama Sandi. Sebelumnya dia komen tentang seorang emak bernama Lia yang membawa uang seratus ribu dan hanya bisa membeli cabe dan bawang saja. Dan model "receh" seperti ini akan terus dimainkannya sebagai bagian strategi..

Kenapa Sandi harus main recehan begitu?

Nama Sandiaga Uno sesungguhnya tidak dikenal di banyak daerah di Indonesia. Ia hanya dikenal di kalangan perkotaan saja. Karena itulah ia mencoba mengangkat namanya melalui media sosial supaya terus dibicarakan orang. Dengan melakukan gerakan receh ini ia berharap namanya terangkat pelan-pelan.

Dan Sandi "merasa" ia berhasil. Setidaknya begitu menurut timsesnya. Ia memang suka "agak aneh" sejak menjadi Wakil Gubernur, dengan gaya silat bangau dan sedikit lawakan slapstick ia berharap sosoknya mulai dilirik.

"Pemimpin milenial" begitulah dia membungkus dirinya supaya dikenal. Tapi benarkah ia dikenal di kalangan milenial ?

Survei dari Centre for Strategic & Internasional Studies CSIS yang membedah tentang pilihan generasi milenial di medsos, ternyata tidak menempatkan Sandiaga Uno dalam peringkat berapapun. Malah Ridwan Kamil yang menempati peringkat ketiga sesudah Jokowi dan Prabowo.

Lucunya Lingkaran Survey Indonesia LSI malah meneliti, bahwa Sandi kalah populer di kalangan milenial dibandingkan Kiai Ma'aruf Amin.

Ini mengherankan disaat Sandi berusaha keras untuk mengenalkan dirinya sebagai pemimpin milenial, generasi milenial justru sama sekali tidak mengenal dirinya.

Sandiaga Uno mungkin "fun", tetapi ia bukan yang harus dipilih jika menjadi pemimpin. Karena untuk menjadi pemimpin, syaratnya harus lebih dari sekadar menjadi seorang pelawak slapstick.

Sandi mungkin lupa bahwa terpilihnya ia sebagai Wakil Gubernur DKI bukan karena milenial memilihnya, tetapi karena Anies Baswedan yang menjadi alternatif oleh mereka yang condong "asal bukan Ahok". Gaya lawak Sandiaga Uno sama sekali tidak berpengaruh apa-apa selama ini.

Bahkan model "recehan" seperti yang dilakukan Sandiaga Uno bisa menjadi bumerang terhadap dirinya, dan Prabowo tentunya yang sudah menggambarkan dirinya dengan gaya gagah, militer, tegas eh disampingnya malah ngajak lucu-lucuan.

Sebagai seorang pengusaha, ia seharusnya menampilkan dirinya dengan gaya elegan dan pintar, bukan dengan gaya lawakan. Apalagi dengan munculnya pengusaha muda pembanding dirinya seperti Erick Thohir yang sekarang menjadi Ketua Timses Jokowi.

Jomplang banget modelnya. Survei sudah membuktikan..

Ibarat makanan, Sandiaga Uno itu keripik tempe. Harganya murah dan dijual dipinggir jalan. Ia ada sebagai makanan alternatif pengisi perut, bukan yang utama. Dibeli jika sedang suka saja. Bahkan jika disuruh memilih ayam goreng atau keripik tempe sebagai teman nasi, ia akan ditinggalkan karena tidak mengenyangkan..

Sungguh, jika saya Sandiaga Uno, saya akan memecat timses saya yang sudah membentuk diri saya menjadi seorang badut bukan tercitra sebagai pemimpin masa depan yang cemerlang.

Bagaimana bisa rakyat negeri ini mempercayakan Indonesia pada seorang yang bahkan tidak tercitrakan gemilang ??

"Saya senang dengan gaya Charlie Chaplin di filmnya, tapi kan gak mungkin saya memilihnya jika ia mencalonkan diri jadi Presiden Amerika? Mengurus negara itu bukan lawakan.." Kata seorang teman pendukung Prabowo yang sedang kerja di kejauhan.

Mungkin Sandi harus merenungkan ini dalam-dalam sambil seruput secangkir kopi sebagai teman.

Bagi dong keripik tempenya. Kriukkk.

Sumber: Tagar.id