Kamis, 27 September 2018

MENGHINA ISLAM

HTI
Denny Siregar

Saya seringkali dituding sudah menghina Islam. Terakhir saya malah dipolisikan ketika menulis tentang lantunan kalimat tauhid yang disuarakan oleh segerombolan orang saat mereka mengeroyok seseorang sampai tewas di tempat.

Mereka menyangkal tidak mungkin ada lantunan kalimat "Tiada Tuhan selain Allah" disana, karena itu kalimat suci yang seharusnya dilantunkan ditempat-tempat ibadah.

Mereka yang menyangkal itu adalah mereka yang juga menyangkal ketika teriakan "Tuhan Maha Besar" digelorakan sebelum melakukan bom bunuh diri ditengah kerumunan orang tak berdosa.

Mereka yang menyangkal itu juga adalah orang yang sama yang menyangkal ketika anggota ISIS menggorok leher seseorang sambil bertakbir menyebut nama kebesaran Tuhan..

Buat mereka, itu bukan menghina Islam. Sayalah yang menghina Islam..

Saya yang melakukan otokritik terhadap kelakuan oknum dalam agama saya yang menjual dan menipu orang dengan ayat-ayat Tuhan, adalah penghina Islam.

Saya yang berteriak bahwa banyak sekali orang berbaju agamis, bermulut manis, tapi kelakuan mereka berbau amis, adalah yang cocok dianggap sebagai penghina Islam. Bukan mereka, karena mereka secara tampilan sudah Islam.

Buat para penyangkal, Islam itu adalah bendera, yang ditebarkan dimana-mana, dipublikasikan melalui spanduk secara terbuka, berwarna putih dan hitam. Islam itu adalah simbol, sebuah kebanggaan memakainya. Mirip dengan ketika seseorang memamerkan mobil Lamborghininya, atau tas Hermesnya, atau juga sepatu Bruno Maglinya.

Buat mereka yang menyangkal, Islam itu bukan sebuah ajaran berisi kebaikan, yang seharusnya membuat manusia tunduk dan berserah karena merasa dirinya kecil dan tak berdaya, dan selalu berbuat baik bukan hanya kepada manusia tetapi bahkan mahluk semesta alam, dan seharusnya bersinar dengan ahlak yang cemerlang diantara ajaran lainnya..

Tidak. Buat mereka bukan itu. Islam bagi mereka adalah kalimat Tuhan dalam stiker besar yang terpampang di jendela belakang mobil yang berharga ratusan juta rupiah, atau setidaknya terlihat dengan jenggot panjang yang awut-awutan dan sama sekali tidak sedap dipandang, atau jidat hitam kelam tanda bahwa "saya sholat lho.." dan harus kelihatan, juga celana cingkrang sebagai aksesoris tambahan.

Bahwa ketika mereka yang menyangkal itu berbuat hal yang merugikan sekitar, dan kita mengkritik apa yang dia lakukan, maka kita adalah penghina Islam..

Sungguh "Islami" apa yang mereka lakukan..

Mungkin tulisan inipun akan membakar amarah mereka yang sulit ditahan. Mereka seperti api yang siap membakar siapapun yang berseberangan.

Buat mereka, "kami selalu benar, dan yang lain salah.." adalah doktrin yang selalu dipampatkan dalam otak kecil mereka yang sudah penuh dengan 72 bidadari yang siap menghadapi kengacengan yang haqiqi.

Ah terlalu panjang tulisan ini, mereka pasti gak sanggup membacanya karena sedikit saja ruang dalam akalnya yang tersisa. Buat mereka baca judul saja sudah cukup untuk mempolisikan tulisan ini..

Dan saya selalu menunggu sambil minum secangkir kopi, berapa ratus pengacara lagi harus saya hadapi?

Indahnya hidup ini..