Sabtu, 01 September 2018

PAK PRABOWO, RASA PESIMIS ITU MEMATIKAN AKAL

Politik
Prabowo Subianto

"Kita tidak miskin.."

Begitu ayahku berkata di depan anak-anaknya. Situasi memang sulit waktu itu. Ia dengan tiba-tiba ditendang dari pekerjaannya, justru disaat kami sedang memulai hidup di kota baru dimana ia ditugaskan.

Kabarnya, banyak orang dikantornya yang baru tidak suka dengan keberadaannya yang membongkar praktek manipulasi disana yang sudah bertahun-tahun lamanya.

"Miskin itu hanya ada dalam pikiran. Begitu juga kaya. Karena itu berfikirlah bahwa kita kaya. Optimisme akan membuka peluang, pikiran menjadi jernih dan tidak kotor karena merasa kalah..."

Ia memang petarung nyata yang pernah kulihat. Tidak pernah sedikitpun kulihat ia menangis dihadapan anak-anaknya. Mungkin ia menyembunyikan kesulitannya dalam keheningan malam. Tapi disaat siang, ia berjuang kesana kemari mencari penghidupan..

"Kesulitan ada bukan untuk menghakimi kita. Tapi untuk memperkuat kuda-kuda kaki kita. Ujian ada bukan untuk menyengsarakan, tapi untuk memperkuat mental supaya saat materi kita berlebih nanti, kita tidak menjadi orang yang gamang.."

Kata-katanya masih terngiang ditelingaku sampai kini. Butuh bertahun-tahun untuk mendapatkan maknanya, tapi sesudah akhirnya aku mengerti, aku menjadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya, saat aku mendapat kesulitan..

Jadi ketika seorang Prabowo meneriakkan, "Indonesia akan terancam miskin selamanya !" aku justru teringat ayahku. Ia jauh lebih berharga dari seorang Jenderal yang mempunyai harta triliunan tetapi terus meniupkan ketakutan pada bangsanya.

Bagaimana bisa seorang "pemimpin" berbicara kemiskinan disaat rakyatnya butuh harapan, motivasi dan semangat juang ? Bagaimana bisa seorang "ayah" menjatuhkan mental "anak bangsanya" sendiri dan berharap bisa membangun kejayaan diatas kehancurannya ?

"Mental itu terbuat dari baja, nak.. Selayaknya ia terus ditempa.." Kata ayahku, sambil mengusap kepalaku saat aku mengadu padanya ketika masalah ekonomi membelitku. Aku mendongak dan menatap wajah tuanya, wajah yang penuh dengan jalan cerita perjuangan dan pesan-pesannya..

Ia sudah tiada. Pejuang itu sudah lama beristirahat dengan tenang. Dan hanya butuh seorang pemimpin pesimis yang membangkitkan kenanganku padanya..

Ah, seandainya di akhirat sana ada telepon, ingin kuhubungi ia sekedar menyapa, "Papa, aku rindu padamu.."

Biarlah secangkir kopi yang menemani malamku..