Jumat, 07 September 2018

PERANG TIMSES KAMPANYE JOKOWI-PRABOWO

Pilpres 2019
Make America Great Again

"Make America Great Again !"

Ini adalah kampanye Donald Trump waktu pilpres di Amerika thn 2016 lalu. Meski banyak yang protes bahwa itu juga slogan kampanye Ronald Reagan tahun 1980, tapi Trump tidak perduli. Dia ingin memakai slogan itu dalam kampanyenya.

Perhatikan cara pemakaian katanya.

Timses Trump memainkan klaim "America" seakan-akan Donald adalah leader dari bangsa mereka. Ini jelas klaim dan diprotes oleh dua mantan Presiden, yaitu Barrack Obama dan Bill Clinton.

Menurut Obama, "slogan itu memecah belah bangsa". Kata Clinton, "Amerika sudah hebat. Untuk apa harus dibilang hebat lagi ?"

Tapi slogan itu jelas ditujukan bukan buat mereka berdua, melainkan ke warga Amerika kulit putih yang terpuruk, kalah dan susah, untuk bangkit dan memenangkan pertandingan. Trump memainkan isu bangkitnya supremasi kulit putih melawan dunia dan klaim "America" sah-sah saja.

Sedangkan kampanye Hillary Clinton khas wanita yang membutuhkan "bahu dan dada bidang" untuk menguatkan. Lihat saja slogannya, "Stronger Together", "Fighting for Us". Dan lagu-lagunya juga menggambarkan kewanitaan, seperti "Brave" dan "Fight Song".

Trump tidak. Dia memainkan glorifikasi besar-besaran. Sebuah impian dari keterpurukan, ketidakpunyaan, dan harus diambil selagi bisa. Slogan-slogannya, "Make America Proud Again", "Make America Work Again" dan "Silent Majority stands with Trump".

Lagu yang dipake juga menggambarkan keinginan yang tidak tercapai seperti "You cant always get what you want" dari Rolling Stones dan "American dreamer". Timses Trump membangun mimpi dari rasa kalah yang terjadi di komunitas kulit putih selama ini.

Dari pemilihan slogan dan lagu ini, saya melihat bahwa Trump mampu membangun kebutuhan sebagian besar rakyat Amerika. Yaitu kebutuhan akan pengakuan, akan pekerjaan, mimpi untuk menjadi besar di tanah yang besar.

Trump berbicara tentang dunia dan Hillary berbicara tentang dirinya.

Pada akhirnya Hillary kalah, mungkin karena ia tidak mewakili banyak orang. Ia hanya mewakili mimpinya sendiri. Semua puja puji terhadap model slogan yang sempurna itu hancur karena ternyata sama sekali tidak "bunyi".

Pemilihan Presiden di Amerika sedikit mempunyai kemiripan dengan Indonesia, terutama dalam masalah kampanye. Dan ini bisa jadi acuan pada timses kedua paslon Jokowi dan Prabowo di Indonesia.

Saya membayangkan, Prabowo yang sudah diuntungkan dengan kata "GantiPresiden" akan mengubah kata "Ganti" itu menjadi "Lawan". Dan ini tentu ditujukan pada Jokowi.

Kata "Lawan" ini disukai generasi milenial, generasi pemberontak, karena "Gue Banget".

Timses Prabowo akan bermain menyerang. Mereka adalah oposisi atau penantang, tentu bebannya tidak seberat petahana atau pemegang sabuk kejuaraan. Yang masalah memang di petahana ini. Karena sudah pernah menang, mereka akan memainkan konsep bertahan.

Menarik memang melihat perjalanan kampanye ini dari awal. Secangkir kopi memang tidak cukup untuk mengamati apa yang akan dilakukan kedua timses dalam perjalanan Pilpres 2019..

Seruput dulu ahhh..