Rabu, 12 September 2018

SURGA & NERAKA FARHAT ABBAS

Farhat Abbas
Tweet Farhat Abbas

"Yang milih Jokowi masuk surga. Yang tidak milih, masuk neraka!".

Begitu kata Farhat Abbas di akun IGnya. Farhat adalah juru bicara resmi di tim kampanye Jokowi - Maaruf Amin.

Tidak jauh beda dengan kaum "pemilik surga", Farhat memainkan genderang yang sama. Memainkan agama sebagai bagian dari tarian massal. Bertindak seolah Tuhan dan politik dijadikan acuan keimanan.

Bung Farhat, meleklah. Saya pendukung Jokowi, tapi bukan begitu cara jika ingin bermain. Itu cara terbodoh jika melibatkan wilayah Tuhan dan akhirat dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan melawan kebodohan dengan kebodohan juga. Cukuplah itu ada di wilayah tetangga sebelah yang doyan mengklaim bahwa mereka orang suci. Anda tidak suci, Jokowi juga, saya juga dan semua orang di dunia.

Jangan sampai aib anda juga dibongkar seperti yang kabur ke Saudi karena gemar bermain di wilayah hak Tuhan. Anda siapa? Tetangganya?

Biarkan mereka yang memainkan narasi Tuhan. Mau bilang kita dajjal kek, kafir kek, penghuni neraka kek, gak penting semua itu, karena bukan mereka yang menentukan. Tetapi kalau anda yang bilang begitu, itu menjadi masalah besar, karena anda juru bicara resmi dari tim yang anda bela.

Tahukah anda, narasi anda begitu menjijikkan? Membuat banyak orang meludah dan -sialnya- berdampak pada pemimpin yang anda bela? Yang benci semakin benci, yang golput semakin mencaci dan yang mendukung jadi tidak punya kebanggaan diri.

Anda orang cerdas, cerdaslah dalam berargumen. Kalau mau melawan Fadli Zon dan kawan-kawan, hantam argumentasi mereka dengan pintar. Jangan malah lebih bodoh dengan membawa-bawa hak Tuhan.

Saya juga heran, entah kenapa tim kampanye Jokowi bisa menjadikan seorang Farhat menjadu juru bicara resmi. Ini blunder dan tidak menjadikan Jokowi menang. Jokowi sudah bagus dengan mengeliminasi isu-isu agama, jangan malah tim kampanyenya yang memulai.

Seruput kopi dululah, bang Farhat. Demokrasi jangan ditarik mundur kembali. Mari kita kembalikan demokrasi dalam bentuk pesta rakyat, bukan dalam provokasi yang melibatkan akhirat.

Anda mau jika Jokowi menang dan ia dituding menang dengan memainkan agama dan ayat ?

Kopi saya pahit siang ini, tapi tidak sepahit ketika saya sadar bahwa yang termasuk menjatuhkan Jokowi adalah pendukungnya sendiri.