Selasa, 09 Oktober 2018

GAK MALU SAMA AHOK, PAK AMIN RAIS?

Amien Rais
Sidang Ahok

Melihat paniknya kelompok oposisi terhadap situasi pasca tertangkapnya Ratna Sarumpaet ini, saya jadi tertawa geli..

Ketika Amin Rais dipanggil polisi hanya untuk diminta klarifikasi, mereka semua langsung bereaksi. PA 212 akan kirimkan 500 orang untuk melindungi. Habiburakhman kerahkan 300 pengacara sebagai amunisi..

Bahkan tim Prabowo akan praperadilankan polisi. Praperadilan? Lha, Amin Rais jadi tersangka aja belum kok sudah ambil langkah jauh di depan. Bahkan Dahnil Simanjuntak juru bicara oposisi berkata, Muhammadiyah dan Kokam sangat marah. Lebay gak sih?

Begitulah cara mereka, mencoba mempengaruhi opini penegak hukum lewat tekanan massa. Mereka berlindung dibalik gerombolan. "Mainnya keroyokan.." begitu kata seorang teman sambil tertawa. Ini baru dipanggil jadi saksi, bagaimana kalau nanti perannya terbukti?

Saya lalu teringat seorang Ahok..

Ia yang dimaki kafir, cina dan mulutnya tidak sekolah, ternyata jauh lebih jantan dari mereka-mereka. Ahok datang ke kepolisian sendirian, mereka melaporkannya secara keroyokan. Ahok datang ke pengadilan sendirian, mereka menekan persepsi hakim dengan demo besar-besaran.

Ahok bahkan menerima keputusan yang dirasanya tidak adil itu juga dengan sendirian. Dan mereka terus mengeroyoknya dengan wajah kemenangan.

Buat kelompok oposisi, maen keroyok itu budaya. Mereka tidak berani stand alone menghadapi masalah yang mendera. Mereka butuh gerakan bersama, supaya bisa menghilangkan ketidakpercayaan diri. Coba mereka sendirian, mana berani ?

Beranikah mereka seperti Ahok yang ksatria menghadapi semuanya sendiri ?

Ahok itu laki. Ia menghadapi semua kasus yang menghantamnya dengan kepala tegak berdiri. Baginya, semua harus dihadapi. Karena ini masalah kehormatan dan harga diri. Pun jika ia divonis bersalah meski ia sudah berusaha sekuat tenaga, ia akan tetap dikenang sebagai orang pemberani.

Tanpa disadari kelompok oposisi, mereka jadi bahan tertawaan dengan perilaku mereka. Seperti anak kecil yang dipukul teman dan nangis mengadu ke orang tua. Dan orang tuanya pun seperti lelaki gagah datang ke sekolah padahal ini hanyalah masalah kanak-kanak saja.

Sudah cukup ketawa gelinya? Mari seruput kopinya.