Selasa, 02 Oktober 2018

Gempa Palu dan Hilangnya Kemanusiaan Kita

#PrayForDonggala
Seorang Bapak Menggendong Anak Kecil

Gempa dan Tsunami di Palu sudah menelan korban jiwa hampir mencapai seribu orang. Terbanyak korban ada dalam puing reruntuhan dan terseret gelombang air laut. Seribu itu jumlah yang terhitung, yang hilang mungkin menambah jumlah korban yang ada.

Seharusnya pada saat musibah seperti ini, semua yang mempunyai rasa kemanusiaan bangkit berdiri. Mulai melakukan apa yang bisa dilakukan, dari menyumbang sampai mengirimkan tenaga ke lokasi untuk yang membutuhkan.

Tetapi ternyata ada yang hilang disini, terutama bagi sebagian orang yang pikirannya selalu berorientasi kekuasaan. Bagi mereka, korban jiwa dari gempa Palu, tidak ada artinya dibandingkan narasi politik yang ingin mereka kembangkan.

Mari kita lihat, bagaimana Wakil Ketua Umum Gerindra, Ferry Juliantono, dengan sinisnya berkata bahwa Jokowi jangan pakai fasilitas negara untuk ke lokasi gempa Palu.

Pernyataan Ferry ini sungguh tidak punya hati. Disaat banyak orang membuka baju perbedaannya untuk menolong saudaranya, ia malah sibuk berfikir bahwa ada yang memanfaatkannya untuk kegiatan politik.

Entah apa yang ada dipikirannya Ferry ini. Mungkin bagi Ferry kekuasaan lebih berarti daripada menolong sesamanya sendiri. Yang difikirkannya hanyalah kursi, bukan bagaimana bisa membantu saudaranya sendiri. Dia seperti takut kalah dalam pagelaran Pilpres tahun depan, sehingga langkah apapun yang dilakukan lawannya patut dicurigai.

Bagusnya Jokowi menunjukkan sikap seorang negarawan. Ia membatalkan jalan sehat di Solo yang sudah diramaikan ribuan orang. Acara itu diganti dengan berdoa bersama bagi mereka yang terkena musibah. Jika Jokowi ingin kampanye, tidak perlu jauh-jauh ke Palu, di Solo saja dia bisa melakukan..

Ada lagi kedangkalan berfikir ala FPI..

Pernyataan Sobri Lubis ketua DPP FPI yang menyangkut pautkan gempa Palu dengan status tersangkanya Sugik Nur Raharja, sungguh menjijikkan. Betapa dangkal cara berfikirnya sehingga semua dikaitkan dengan agama. Dan gilanya, umatnya pun mengiyakan bahkan bertakbir karenanya.

Dimana rasa kemanusiaan kita?

Bagi sebagian orang "rasa" itu telah lama hilang. Mereka sibuk mengunyah, melahap, menerkam, semua hal yang bersifat kekuasaan. Dalam dirinya sejatinya sudah lama berubah menjadi binatang, hanya karena wujudnya manusia tidak banyak orang yang mengetahuinya.

Karena itulah rasa kemanusiaan tidak ada padanya. Sebab ada sifat binatang liar yang tumbuh dari apa yang dimakannya. Ia bahkan mampu untuk memakan bangkai sesamanya.

Gempa Palu adalah peristiwa teknis, berupa gerakan dari patahan yang aktif. Tetapi juga berupa pelajaran, bahwa dalam situasi sulit, kita baru bisa melihat siapa kawan dan siapa yang bukan. Seruput kopinya.