Sabtu, 27 Oktober 2018

JOKOWI BUKAN LAGI KITA

Joko Widodo
Jokowi
Sudah lama saya tidak kritik Jokowi. Ia juga bukan manusia sempurna, jadi seharusnya kritikan yang tepat harus ia terima..

Tahun 2014, saya dan banyak orang lain memilih Jokowi. Kenapa ? Karena ia adalah kita. Kita yang memimpikan sosok yag sederhana sebagai perlawanan pemimpin borjuis yang memamerkan harta dan partai keluarga.

Kita memilih Jokowi karena ia adalah pemimpin revolusi dari tatanan yang rusak di negeri ini. Ia adalah suara rakyat kecil yang bergerak demi tercapainya harapan akan keadilan sosial bagi seluruh negeri. Dan Jokowi bisa mewujudkan harapan ini, di tengah gempuran mereka yang tersingkir sesudah sekian lama merampok sana sini.

Pada titik itu, Jokowi menjelma menjadi kita yang sesungguhnya.

Tetapi "kita" pada tahun 2014, sudah bukan "kita" lagi sekarang ini. Sekarang "kita" sudah berubah, berpikiran lebih maju, lebih mapan, dan ingin sesuatu yang berada di depan.

Disinilah Jokowi tidak menjadi "kita" kembali. Ia menjadi orang lain yang terlihat sibuk bertahan memamerkan program-program yang telah dicapai. Ia menjadi menjadi orang lain yang sibuk dengan masalah sehari-hari tanpa menawarkan konsep yang melompat ke depan.

Jokowi menjadi seperti merk Iphone, yang berubah nama tetapi teknologi tetap sama. Tidak ada sesuatu yang baru untuk ditawarkan kedepannya, tetapi tetap harus dijual demi kelangsungan usaha. Kehabisan ide dan strategi yang memukau, yang membuat kita membelinya karena terpukau.

Tagline "Indonesia Maju" adalah jualannya. Tapi masalahnya, maju seperti apa yang ingin dicapai ? Tidak ada penjelasan, yang ada hanya retorika. Tidak pernah diwujudkan dalam bentuk visual yang membuat kita bergumam, "Oh, seperti ini kelak negeri ini jika Jokowi memimpin kembali." Kita juga perlu mimpi, tawarkan itu sebagai sebuah strategi.

Tahun-tahun kedepan, semua akan berubah. Teknologi akan mengambil banyak sisi kehidupan kita. Dan Jokowi hanya menyiapkan anak-anak muda sebagai pekerja, padahal bidang itulah yang akan banyak digantikan oleh robot-robot demi efisiensi dan efektivitas kerja.

Pembangunan infrastruktur dimana-mana. Tetapi kenapa tidak pernah dijelaskan dampak infrastruktur itu terhadap ekonomi di daerahnya ? Bahwa akan muncul kota-kota baru yang punya potensi sesuai jati dirinya. Dan semua itu digambarkan lewat animasi 4 dimensi, sehingga mata kita dimanjakan olehnya.

Yang ada sekarang hanya laporan berupa angka, berapa kilometer yang sudah dibangun pemerintah. Padahal masyarakat kita adalah masyarakat pemimpi, mainkan emosi mereka, jangan hanya main di data..

Ah, terlalu banyak hal yang harus dituliskan. Tetapi ada satu poin yang layak menjadi acuan. "Kita" sekarang ini sudah baru dalam pemikiran, tawarkan "kita" sesuatu yang baru sebagai harapan. Kita butuh sebuah lompatan, bukan sesuatu yang sedang berjalan. Disinilah Jokowi banyak kekurangan. Ia hanya bertahan dan bertahan. Seperti seseorang yang takut kehilangan kekuasaan.

Mungkin juga bukan salah Jokowi, karena ia dikenal sebagai seorang yang mempunyai visi. Masalahnya mungkin ada di sekitarnya, orang-orang lama yang tidak mempunyai imajinasi, dan lebih sibuk dengan ketakutan akan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi. Jokowi perlu penyegaran, baik dari sisi timses maupun yang ada di lingkaran.

Jika Jokowi bisa menawarkan mimpi, maka ia akan menjadi kita kembali. Kita yang sudah muak dengan masalah "agama" yang selalu dipelintir sana sini, tapi jarang berbicara bagaimana peta Indonesia dalam penguasaan teknologi sekian puluh tahun ke depannya.

Untung saja, lawan Jokowi tidak pintar. Hanya sibuk isu kesana kemari, tanpa menawarkan sesuatu yang baru yang bisa membuat kita beralih. Pengennya seperti America Great Again, tapi jadinya provokasi yang gagal maning gagal maning...

Bayangkan seandainya mereka bicara tentang teknologi pembaruan, menjanjikan Indonesia menjadi negeri dengan semua penguasaan, membuat sebuah video tentang canggihnya negeri ini kedepan, tentu Jokowi akan kelabakan.

Untungnya mereka juga bukan peminum kopi, yang memunculkan banyak imajinasi dan harapan, sebagai sesuatu yang layak ditawarkan kepada bangsa ini yang sedang bergerak seperti buih ditengah gelombang penguasaan dunia terhadap teknologi.

Jokowi harus berubah. Berubah menjadi kita yang sekarang. Masih ada waktu untuk menawarkan sesuatu yang baru. Bertahan bukan lagi opsi yang menjanjikan.

Seruput kopinya, kawan.