Selasa, 30 Oktober 2018

LION AIR SI RAJA DELAY

Pesawat
Lion Air Delay
"Lion Air memang tidak profesional. Tapi mau tidak mau kita tetap naik Lion. Soalnya murah.. "

Teman saya yang "living on a jet plane" ketawa ngikik. Ia yang "jam terbangnya" sudah tidak terhitung karena sering bulak balik antar pulau, sudah kenyang dengan ketidak profesionalan Lion Air. Lagian katanya, yang beliin tiket adalah perusahaannya. Jadi pasti pilih yang murah. Tidak ada opsi lainnya..

Brand Lion Air sebagai pesawat "termurah" dari pesawat lainnya sudah menancap di benak para penumpang. Karena murahnya, logo Lion selalu terpampang duluan di tiket online. Ini adalah strategi marketing mereka dan berhasil.

Kenapa Lion bisa murah begitu ?

Sebenarnya tidak murah-murah amat juga. Perbedaannya hanya di angka 100rb sampai 200 ribu saja dibandingkan pesawat sejenis. Lion murah karena mereka mengurangi biaya pelatihan dan meniadakan makanan di pesawat. Perbedaan ini yang membuat Lion Air lebih murah karena biaya makanan di udara tentu saja mahal.

Ini dijelaskan Suprasetyo, yang dulu menjabat dirjen perhubungan udara dan sekarang menjadi staff ahli ekonomi. Jadi kuncinya cuma disitu saja. Bukan di masalah lain-lain.

Lalu apa hubungannya murahnya Lion Air dengan seringnya mereka delay ?

Tidak ada hubungannya ternyata. Seringnya Lion Air delay bukan karena harga tiket murah, tapi karena kurangnya pilot.

Saya kutip dari laman tirto.id, dari jumlah lebih dari 500 penerbangan domestik, Lion hanya punya 300 orang pilot. Dan ini berakibat pada manajemen yang buruk, dimana kalau dalam satu pesawat hanya ada 50 penumpang misalnya, maka mereka akan dialihkan ke pesawat lain. Itulah kenapa Lion sering delay..

Ambisi Lion Air dengan banyaknya rute dan jumlah pesawat, ternyata tidak imbang dengan banyaknya pilot. Sehingga untuk mengisi kekurangan itu, banyak pilot yang "terbang dadakan", baru ditelpon 2-3 jam sebelum keberangkatan.

Sedangkan jatuhnya pesawat JT610 sejatinya bukan karena masalah manajemen buruk, tetapi kemungkinan besar ada di masalah mesin Boeing 737 max 8 yang pernah dibilang sebagai "pesawat masa depan". Boeing sendiri pernah menunda pengiriman pesawat laris berharga lebih dari 1 triliun itu karena masalah teknis. Meski begitu, kita tunggu penyelidikannya.

Kata orang Jawa, "Ono rego ono rupo" yang berarti ada harga ada rupa. Jadi ketika anda naik pesawat murah, ya jangan banyak protes. Terimalah apa adanya.

Kalau delay, ya manyun aja sambil membayangkan "Seandainya saya naik Garuda.." yang tiketnya merobek-robek dompet dengan sadisnya seperti Hulk merobek musuhnya.. Berkeping-keping, kawan..

Tinggal pilih, mau dompetnya yang robek atau nyalinya yang robek ? Tapi saya yakin, nyali orang Indonesia tinggi-tinggi. Buktinya mereka yakin bahwa nyawa ada di tangan Tuhan, sedangkan dompet ada di tangan hanya saat gajian..

Seruput...