Rabu, 03 Oktober 2018

PRABOWO BLUNDER


Prabowo Subianto
Ketum Gerindra, Prabowo Subianto
Saya sendiri heran, untuk apa Prabowo harus muncul dalam kasus Ratna Sarumpaet ini?. Ini jelas blunder besar bagi Prabowo, dimana kasus Ratna Sarumpaet yang katanya di "gangbang" 3 pria di Bandung, masih belum jelas kebenarannya.

Apalagi polisi sudah menelusuri bahwa tidak ada laporan tanggal 21 September tentang kejadian itu. Dan polisi juga tidak menemukan nama Ratna di RS Bandung manapun. Bahkan pihak bandara Husein Sastranegara ramai-ramai menolak statemen Ratna bahwa ada kejadian penculikan di tempatnya.

Lalu kenapa Prabowo "berani" untuk muncul dan konferensi pers hanya untuk sekedar kasus Ratna Sarumpaet? Oh, come on, dia itu Calon Presiden. Seharusnya Prabowo baru muncul apalagi konferensi pers kalau berhubungan dengan masalah besar, seperti gempa Palu misalnya. Lha, ini kok kasus kecil dan tidak jelas yang cukup kopral-kopral aja yang muncul?

Analisa saya, ada dua alasan kenapa Prabowo mendadak muncul ke publik dalam bentuk konferensi pers..

Pertama, Prabowo butuh panggung.

Gempa Palu benar-benar menguras perhatian publik sehingga terlupa akan kampanye. Dan ini sangat menguntungkan Jokowi sebagai Presiden yang tiap hari diliput berita. Sedangkan Prabowo seperti terlupakan keberadaannya. Karena itulah dia langsung mengambil panggung yang ada untuk muncul, sebagai pemimpin yang perduli.

Karena nafsu untuk manggung inilah, Prabowo seperti tidak memikirkan resikonya seandainya Ratna ternyata hoax. Wah, dia bisa dibully seantero negeri dan berpengaruh pada suaranya saat pencoblosan nanti. Mirip dengan kejadian dimana dia sujud syukur kemenangan padahal dia kalah pemilihan.

Kedua, ini yang berbahaya. Semua ini settingan.

Cepatnya pergerakan sejak munculnya foto bengap Ratna di media sosial dan pada hari yang sama Prabowo memberikan statemen, ini menimbulkan kecurigaan. Ada aura settingan disini, dimana semua diatur untuk membangun opini publik.

"Opini tentang apa?" Ya jelas opini bahwa pemerintahan Jokowi tidak aman, bisa juga yang mengeroyok Ratna akan diidentifikasi PKI, dan terutama bahwa pihak koalisi menjadi pihak yang terzolimi oleh rezim yang berkuasa.

Ini jelas sangat berbahaya, terutama bagi Prabowo sendiri. Jika terbukti Ratna hoax, maka akan teridentifikasi bahwa semua pembentukan opini itu adalah hoax juga. Dengan begitu koalisi oposisi akan tercap sebagai koalisi hoax. Dan jelas Prabowo sendiri akan dicap sebagai Capres Hoax.

Masyarakat akan takut dengan cara-cara kotor seperti ini. Jangan-jangan jika semua hoax, negara ini kelak akan menjadi negara hoax.

Jelas saya tidak mengerti mengapa Prabowo memainkan permainan rendahan ini. Jika itu Jokowi, dia pasti akan menjauh dari permainan seperti itu. Untuk apa? Presiden itu urusannya yang gajah-gajah, bukan ngurus kecoak.

Dari sini kita bisa melihat kelas seorang Prabowo. Runtuh sudah image dia sebagai seorang Jenderal yang mengklaim diri sebagai macan asia. Publik jangan terus dianggap bodoh dan bisa dibodohi, mereka sudah pintar untuk memilah mana informasi yang benar dan mana yang masturbasi.

"Lha kok masturbasi, bang?"

"Ya, dia yang bikin-bikin sendiri, ribut-ribut sendiri, merasa terzolimi sendiri, entar hilang-hilang sendiri. Kalau semuanya sendiri, apa namanya selain masturbasi?"

Seruputtt.