Rabu, 17 Oktober 2018

Sandiaga Uno dan Mimpi Oke Oce

Politik
Sandiaga Uno di Pasar

"Oke Oce gagal total...," kata Sandiaga Uno lemah.

Oke Oce adalah mimpi program pengentasan kemiskinan dan pembukaan lapangan kerja yang digagas Sandiaga Uno saat menjadi Wakil Gubernur DKI.

Konsep awalnya saat kampanye adalah dengan membantu orang untuk menjadi wirausahawan baru dengan diberi pelatihan dan modal. Tapi pada penerapannya sesudah Sandi berhasil menduduki kursi Wagub DKI, pemberian modal itu ternyata tidak ada. Nol besar.

Pemprov DKI hanya menjadi fasilitator kepada calon wirausaha dengan pihak Bank, dengan bunga yang tinggi juga, sekitar 13 persen per tahun atau 1,5 persen per bulan. Itu bukan menolong orang tapi malah mengantarnya ke tiang gantungan.

Sesudah setahun berjalan, program Oke Oce itu sendiri baru mencapai 3,31 persen. Jauh sekali dari target awalnya. Dari target 44 gerai yang mau dibuka, baru 7 yang terlaksana. Itupun sudah mulai tutup karena tidak ada pembelinya.

Jelas Oke Oce adalah program yang gagal. Meskipun begitu, Sandiaga Uno memaksakan jika ia menjadi Wapres RI nanti, ia akan mengangkat program Oke Oce ke tingkat nasional. Sebuah mimpi yang dilahirkan dari sebuah mimpi lainnya.

Kenapa Oke Oce gagal?

Karena Oke Oce berkutat pada model bisnis gerai minimarket konvensional, modalnya tentu sangat tinggi. Lawannya adalah raksasa seperti Alfamart dan Indomaret, tentu tidak akan bertahan. Apalagi di era teknologi ini, konsep gerai minimarket Oke Oce sudah tidak relevan ketika perusahaan retail besar lainnya sudah bermain di online untuk menekan biaya operasional.

Yang kedua, "pengusaha itu binatang yang berbeda" kata seorang pengusaha besar. Menjadi pengusaha itu tidak mudah, harus melalui ujian keras dan berbagai macam kegagalan sebelum naik kelas. Jadi urusannya bukan hanya modal tetapi yang paling penting adalah mental.

Berapa persen pengusaha yang ingin diciptakan Sandiaga Uno dengan fasilitas yang ingin dia manjakan? Wah bisa jadi dari seribu peserta manja, hanya satu yang punya mental pengusaha, sedangkan modal sudah terlanjur beredar. Rugi bandar.

Inilah yang tidak diperhatikan Sandiaga Uno. Ia memang bukan tipikal pengusaha yang mulai dari bawah. Sandiaga Uno hanyalah pengusaha yang bermain di kertas keuangan. Jadi bagaimana ia bisa tahu situasi pengusaha jika tidak pernah mengalami masa berkeringat dan susah?

Sebenarnya Sandiaga Uno tahu itu, hanya ia menutupnya rapat-rapat. Baginya Oke Oce itu hanyalah sebuah kampanye mimpi, menjual harapan. Tapi ia terus menjualnya karena ia tahu bahwa banyak orang yang ingin naik status sosialnya tapi tidak mau bekerja keras. Pekerja instan yang tahunya cuma "modal dan modal". Pas dikasih modal, foya-foya kerjaannya.

Seharusnya Sandiaga Uno mulai merevisi konsep Oke Ocenya, dan konsep baru ini yang dia tawarkan dalam program kampanyenya. Tapi ia sendiri juga tidak paham, makanya ia hanya jualan "rambut petai", "makanan Indonesia mahal" sampai "tempe setipis ATM" sebagai mainannya.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana jika ia membawa program gagal itu ke tingkat nasional? Bisa jadi bukan gagal total lagi, tetapi gagal global. Yang maju adalah bisnis debt collector karena banyak para pemimpi yang harus dikejar dan ditagih utangnya.

Mungkin Oke Oce yang berhasil hanya ada di tempat tidur. Ketika seorang suami senyum-senyum pada istrinya, bertanya, "Oke, Ma?" Si mama tersenyum sambil siap-siap telentang, "Oce, Pah...". Lalu di malam dingin itu terdengarlah suara orang lari-larian, "Oke Oce... Oke Oce... Okeeee... ocehhhh...."

Seruput kopi dulu ah.