Jumat, 23 November 2018

"Bagaimana Seandainya Ojek Online Tidak Ada Lagi?"


Ojek Online
Ojek Online
Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan, "Bagaimana seandainya handphone menghilang ?"

Transportasi online, terutama ojek, di Indonesia sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat. Sama seperti handphone, internet, komputer dan lain-lain. Kebutuhannya sudah menjadi kebutuhan pokok, bahkan menjadi budaya.

Bayangkan, banyak hal terbantu dengan adanya ojek online. Mulai dari antar jemput anak sekolah, antar barang, antar makanan dan lain-lain yang pelan-pelan menjadi bagian hidup masyarakat. Jika itu dihilangkan, itu seperti mencabut kuku di jari. Sakit dan merepotkan.

Dan untuk menjalankan ojek online itu tentu dibutuhkan tenaga, disebut driver. Driver inilah yang menjadi "motor" penggerak ekonomi negeri ini. Peran mereka sangat penting. Jika mereka mogok, kita akan sangat kerepotan

Jadi saya heran ketika Ferdinan Hutahaean petinggi partai Demokrat berkata bahwa, "Banyaknya ojek online adalah bukti kegagalan Jokowi ciptakan lapangan kerja..".

Ini jelas logika bumi bentuk donat.

Adanya ojek online bukan saja membuka lapangan pekerjaan ratusan ribu orang sebagai drivernya. Tetapi juga membangun ekonomi baru seperti usaha jual makanan yang tidak perlu lagi sewa tempat. Belum lagi penjualan barang yang diantar pake ojek online.

Berapa triliun rupiah ekonomi berputar disana ? Berapa juta pengusaha membangun ekonomi baru ?

Dan semua itu akan runtuh jika tidak ada driver online. Orang akan menganggur dan masalah besar bagi negara.

Dimana kegagalannya, wahai Ferguso.. eh Ferdinan ?

Jokowi bahkan membuka peluang sebesar-besarnya kepada bangsa ini dalam bentuk pekerjaan non formal, bukan karyawan. Dan ojek online adalah infrastruktur pentingnya dalam ekonomi baru ini.

Apa yang disebut lapangan kerja itu harus jadi pegawai atau karyawan ? Apa buka warung kopi kecil misalnya itu bukan lapangan pekerjaan ? Atau buka usaha masak memasak dirumah yang kemudian dibeli lewat sistem online dan diantar oleh ojek online, itu juga bukan lapangan pekerjaan ? Atau menjadi driver online sendiri, itu bukan lapangan pekerjaan ?

Dunia baru butuh pemikiran baru. Pekerjaan sekarang bukan saja di kantor, tetapi ada di jalan, di internet, dimana-mana orang mencari uang. Memang tidak selamanya orang ingin menjadi driver ojek online, sama seperti pegawai tidak ingin hanya menjadi staff saja.

Tetapi sebagai pekerjaan paruh waktu, sebagai sampingan, sebagai penambah keuangan, itu sangat membantu. Berapa banyak anak kuliahan yang bisa membayar uang sekolah mereka dari hasil ngojek online ? Ribuan. Bisa belasan ribu atau ratusan ribu orang..

Mereka juga suatu saat akan menjadi pengusaha baru, manajer baru, direktur baru, tapi untuk membiayai cita-cita, mereka harus bekerja dulu.

Jadi tidak perlu membela Prabowo membabi buta hanya karena dia terjebak untuk mengejek pekerjaan driver online.

Mungkin Ferdinan dan Demokrat bisa membantu pemerintah juga untuk membuka lapangan pekerjaan baru, dengan nama "Mangkrak Online". Penggunanya adalah para mahluk halus dari proyek-proyek mangkrak Demokrat supaya mereka bisa saling berkomunikasi di media sosial.

Nanti begini komunikasinya.

'Halo, boleh kenalan ? Saya Kuntilanak dari Hambalang. Asl pls.."

"47/Gendruwo/tol becak ayu. Tapi sekarang sudah dibangun Jokowi. Gada tempat lagi nih. Boleh saya pindah kesitu ??"

Sini Fer, seruput kopi dulu.