Minggu, 04 November 2018

BOHEMIAN RHAPSODY

Film
BOHEMIAN RHAPSODY
Jarang-jarang sebuah film biography ditonton sampai bioskop penuh..

"Bohemian Rhapsody" film yang menggambarkan perjalanan grup band rock legendaris Queen dan Freddie Mercury menarik banyak orang dari berbagai usia untuk menonton film musik itu. Saya pun juga bernyanyi dengan mereka sepanjang film diputar. Menyenangkan kembali ke masa lalu..

Tapi dibalik semua lagu hitsnya, Freddie ternyata orang yang kesepian. Ia yang hidup dibalik tembok rumah besar, ketenaran dan kekayaan, rupanya tidak bisa menikmati apa yang ia punya. Ia dikelilingi orang-orang yang terus mengkapitalisasi dirinya. Orang-orang yang sebenarnya tidak mencintai dirinya, hanya memanfaatkannya.

Dan terjebaklah ia dalam kesepian abadinya. Ketika sahabatnya, orang yang ia percaya dan juga mantan istrinya kawin lagi dengan orang lain, ia kehilangan pegangan. Uang tidak menolongnya. Ketenaran tidak berteman dengannya. Dan sorak sorai ribuan penonton hanya menambah tikaman dalam jiwanya.

Freddie sudah mati sebelum AIDS membunuhnya...

Melihat Freddie Mercury, saya jadi teringat seorang Capres yang hidup dalam tembok mewah yang sama, sendirian tanpa keluarga, dan dikelilingi orang-orang yang terus mengkapitalisasi dirinya.

Seorang Capres yang bergelimang kekayaan, ketenaran dan ambisi untuk menjadi legenda, yang sejatinya hanyalah seorang anak kecil yang hidup dalam tubuh orang dewasa.

Ia impulsif, labil dan emosinya tidak stabil. Ia menuntut penghormatan dari orang-orang sekelilingnya, jika tidak ia marah besar. Ia terjebak dalam delusi bahwa ia adalah seorang raja dan rakyat mengakuinya. Bahkan untuk mendapatkan rasa itu, ia rela membayar semuanya dengan segala cara yang dihalalkan.

Kita layak kasihan pada Freddie Mercury dan orang-orang sepertinya. Dunia bisa dibelinya, tetapi jiwanya kering. Ia mengisi kekeringan itu dengan pujian-pujian semu yang bahkan hilang sebelum ia sempat menikmatinya.

Film Bohemian Rhapsody adalah film menyedihkan yang bicara tentang manusia, bukan tentang musik semata. Sutradaranya mampu menggali sisi gelap Freddie Mercury dan menceritakannya kepada banyak orang. Bahwa, "Hei, harta tidak mampu membeli kebahagiaan seperti yang kamu inginkan.."

Entah kenapa, setelah menonton Bohemian Rhapsody saya jadi teringat Capres itu yang bermain dalam film "Bohemian Kardusy". Kisah yang sama, hanya beda binatang peliharaan saja. Kalau Freddie pelihara kucing, sedang disana kuda..

Ah, jadi pengen dengerin lagu-lagu Queen lagi sambil seruput secangkir kopi..