Minggu, 18 November 2018

KAMU ISLAM YANG MANA?

Aliran Agama
Pak Wiranto di Pemakaman
Pada satu hari pagar rumahku diketuk..

Aku mengintip dari balik pintu dan kulihat gerombolan orang berbaju gamis dengan dua titik hitam di dahinya. "Wah siapa ini ?" Pikirku. Tapi sebagai tuan rumah yang sopan, tentu aku hampiri mereka.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku masih dengan nada heran. Salah seorang yang kelihatan pimpinan dari gerombolan menyapa dengan salam dan kubalas. Mereka mengenalkan diri mereka dari kelompok Jamaah Tabligh. Mereka mengajak saya sebagai muslim untuk meluangkan waktu shalat di masjid bersama-sama. Aku mengangguk dan mereka pergi mengetuk pintu rumah warga lain.

Jamaah Tabligh adalah gerakan mubaligh Islam non politik. Mereka menempatkan diri mereka sebagai "penyampai pesan" mengajak muslim untuk beribadah. Kalau tidak salah, pusat gerakan mereka ada di Pakistan. Mereka keliling berbulan-bulan untuk berkelana menyebarkan pesan.

Mereka berbeda dengan kelompok Salafi yang berideologi Wahabi, meski secara pakaian sama. Kelompok Wahabi ini lebih keras dan menganggap semua aliran Islam di dunia adalah salah. Wahabi berpedoman untuk memurnikan Islam sehingga mereka juga memerangi mazhab lain yang mereka anggap "tidak murni".

Beda dengan Jamaah Tabligh yang menerima semua mazhab dalam Islam, meski tidak termasuk Syiah dan Ahmadiyah.

Begitu banyak aliran dalam Islam, belum lagi ormasnya, dan mereka meyakini bahwa aliran mereka adalah yang paling benar. Meski begitu, ada yang keras seperti Wahabi dan ada yang agak lunak seperti Jamaah Tabligh.

Tulisan ini menjawab pertanyaan seorang teman yang heran sewaktu melihat keluarga Menkopolhukam Wiranto, yang pakaiannya mirip dengan aliran Islam keras yang mereka kenal selama ini. Saya ketawa melihat traumatis dia melihat anak sang Jenderal yang berpakaian gamis dengan istri yang bercadar hitam seluruh badan.

"Selama seseorang itu tidak memiliki pandangan politik yang keras seperti halnya kelompok Wahabi, saya rasa sah-sah saja orang mau berpakaian apa saja sesuai keyakinan mereka. Di Katolik pun begitu, ada yang dari Vatikan dan ada Katolik Ortodoks di Rusia. Pakaian mereka berbeda, tapi tidak menjadi masalah asal itu lebih kepada ibadah.

Lain masalah jika mereka menganut paham politik seperti Hizbut Tahrir atau Wahabi yang memaksakan konsep khilafah dalam suatu negara. Hanya memang stigma yang terjadi selama ini akibat banyaknya bom bunuh diri, membuat orang menggeneralisasi. Jadinya yang tumbuh adalah kecurigaan.."

Masalah kecurigaan ini memang menjadi masalah dalam agama Islam. Akibat satu kelompok tertentu yang memaksakan kehendaknya, semua Islam jadi dicurigai. Padahal dalam Islam juga banyak aliran dan mayoritas damai. Kelompok kecil itu saja yang ribut mulu seolah mereka yang paling benar.

"Kalau abang Islam yang mana?" Tanya seorang teman.

Aku ketawa lagi. "Saya Islam Nusantara aja yang selalu melihat banyak hal dari sisi kelucuan, memandang semua manusia sama dan punya hak menjalankan keyakinannya, cinta Indonesia dan yang penting selalu ada kopi saat bersama teman siapapun juga.."

Kuangkat secangkir kopiku. Tidak ada yang membedakan manusia di dunia, tidak juga pakaiannya. Yang membedakan kita semua hanyalah amal dan perbuatan kita yang kelak akan menjadi pertanggung-jawaban kita dihadapan Sang Kuasa..

Seruput.