Senin, 26 November 2018

Membenturkan Muhammadiyah Dengan Jokowi

Muhammadiyah
Ketum PP Muhammadiyah
"Pak Presiden tidak boleh diam.." Kata Dahnil Anzar ketika diwawancarai seputar kasusnya di Kemah Pemuda Islam.

Dahnil bahkan menyebut bahwa ia di kriminalisasi dengan kasus itu. Sebelumnya, Dahnil juga mengatakan bahwa ia diproses polisi karena sering mengkritik pemerintah.

Kenapa Dahnil menyeret Jokowi dan pemerintahannya dalam kasus ini ? Semua itu berhubungan dengan Pilpres dan Pileg yang akan diselenggarakan 2019 mendatang.

Dalam Pilpres kita tahu bahwa Dahnil sendiri adalah juru bicara Prabowo Sandi. Dan ia punya kepentingan membawa nama Muhammadiyah dalam kasusnya, karena Muhammadiyah sebagai organisasi tidak bermain politik praktis.

Anggota Muhammadiyah diperkirakan berjumlah 50 juta orang, dan itu sangat signifikan untuk mengangkat elektabilitas Prabowo yang masih sangat kurang dibandingkan lawannya.

Apa yang dilakukan Dahnil adalah kelanjutan dari pernyataan Amien Rais yang akan "menjewer" Haedar Nasir Ketum PP Muhammadiyah jika tidak mengarahkan anggota Muhammadiyah di Pilpres ini. Haedar Nasir sendiri sebelumnya mengatakan tetap akan membiarkan Muhammadiyah netral tetapi mempersilahkan kader untuk memilih sesuai nuraninya.

Amien Rais dan kawan-kawan di Partai Amanat Nasional juga sedang panik.

Menurut Lingkaran Survey Indonesia LSI, PAN termasuk satu dari partai yang tidak lolos parlemen di 2019 nanti. Persyaratan untuk lolos di parlemen ( Parliamentary Treshold ) adalah minimal 4 persen suara. Sedangkan dari hasil survey LSI PAN hanya mendapat 1,4 persen saja, dibawah Perindo tetapi diatas Hanura. Hanya jauh dari ambang batas yang ditetapkan.

Karena jauh sekali dari ambang batas yang ditetapkan, jalan terbaik bagi PAN adalah melibatkan Muhammadiyah dalam kancah politik praktis. Dan untuk itu harus diciptakan skenario-skenario politis untuk membangkitkan gairah warga Muhammadiyah dalam Pilpres dan Pileg di 2019 nanti.

Dalam hal skenario politik, Amien Rais masih jagonya. Manuver manuvernya masih oke meski menurut LSI, Amien di PAN dan Muhammadiyah secara popularitas yahud, tapi yang mendengar apa kata dia hanya 9 persen saja. Seperti artis, orang banyak kenal nama Amien Rais tapi tidak banyak yang menonton film yang dibintanginya..

Mungkin karena itulah Amien Rais hanya mendapat nilai A min dalam setiap gerakannya. Bagus tapi kurang bagus. Kalau bagus banget pasti A plus.

Jadi kangen almarhum Gus Dur..