Senin, 12 November 2018

Perlukah Kita Model Pembelajaran Ala Militer di Sekolah?

Kriminal
Gambar
Miris melihat video anak SMK di Kendal, Jawa Tengah, satu kelas membully gurunya yang sudah tua dan ringkih..

Mereka menendang, memukul bahkan tertawa ketika melihat sang guru yang sudah uzur berusaha membela dirinya. Sama sekali tidak ada rasa hormat, bahwa guru adalah pengganti orang tuanya di luar rumah. Entah apa yang terjadi pada mental anak sekarang, beda sekali pada anak zaman saya remaja, dimana guru seberapapun tidak menariknya dia mengajar, tetap harus digugu..

Banyak guru menjadi "korban" ketika mereka mengajar. Jika diam saat dihina, ia akan terus dilecehkan. Tetapi jika melawan, ia bisa dipolisikan. Belum ada perlindungan yang efektif terhadap guru berkaitan dengan tugasnya mengajar. Hak istimewa malah banyak diberikan kepada siswa, sehingga ia dan orangtuanya bisa berbuat apa saja karena merasa terhina..

Kenapa anak sekarang bisa begitu buas pada gurunya ?

Karena tidak ada pelajaran mental dan kepribadian yang ditanamkan sekolah pada siswanya. Semua ukuran hanya dilihat dari ANGKA, bukan NILAI. Dan angka-angka ini yang membuat siswa menjadi robot karena ia fokus mengejar kewajiban memenuhi warna biru di raportnya.

Sejak dulu Departemen Pendidikan gagal total mengubah konsep pelajaran di negeri ini. Yang terjadi lulusan sekolah biasanya bermental buruk dengan kualitas yang memprihatinkan. Itulah kenapa nilai tenaga kerja kita di ASEAN hanya menempati urutan 4 dibawah Singapura, Malaysia dan Thailand.

Masalahnya ada di mental, mental dan mental..

Seorang teman pernah punya usulan ekstrim dalam sebuah diskusi dulu..

"Seharusnya dalam pendidikan mental dan kepribadian, pihak Pendidikan bisa melibatkan militer untuk mengajari bagaimana mengasah diri menjadi seorang yang menghargai dan dihargai dalam pergaulan.

Tidak perlu ekstrim dengan konsep wajib militer, seperti di Singapura dan Thailand. Tapi cukup model pelajaran yang menekankan tentang pentingnya mental, disiplin, kecintaan pada negara dan banyak hal yang akan mempengaruhi sikap seorang siswa. Pengajarnya bisa dari militer meski rumusan konsep pembelajarannya adalah gabungan dari sipil juga sehingga tidak sekeras mereka. Dan itu bisa dimulai dari setingkat SMP dan SMA.

Merosotnya mental dan sikap seorang siswa pada lingkungan sekitarnya sudah masuk taraf mengerikan.."

Itu diskusi di warung kopi beberapa tahun lalu. Dan sekarang rasanya saya setuju dengan apa yang dia ungkapkan..