Minggu, 04 November 2018

PRABOWO DI MATA SAYA

Prabowo Subianto
Sejak awal saya sudah menganalisa bahwa Prabowo ini pada dasarnya baik, terlalu baik malah. Rekam jejaknya saat tidak membolehkan anggota DPR dari Gerindra kunker ke luar negeri demi menghindari kecurigaan masyarakat, menunjukkan bahwa ia ingin menjadikan Gerindra partai yang baik.

Kemampuannya menurunkan harga dirinya menjadi cawapres Mega tahun 2009 lalu menunjukkan ia bisa merendahkan diri jika diminta. Keinginannya menjadikan Abraham Samad menjadi cawapres-nya dulu menunjukkan komitmennya terhadap memberantas korupsi tinggi.

Sayangnya sifat temperamental dan "senang diangkat" adalah kelemahan terbesarnya sehingga ia mudah sekali dimanfaatkan oleh orang-orang di dalam ring-nya sendiri.

Prabowo menunjukkan ia tidak mampu bermain politik yang rumit dimana kawan sebenarnya adalah lawan yg tidak terlihat. Sulit sekali bagi Prabowo memisahkan mana orang munafik dan yang benar. Akhirnya yang benar tersingkir dan kelompok munafik menguasainya.

Bagi yang memanfaatkannya, Prabowo adalah simbol yg bisa dijual, selain dari uangnya dan uang adiknya yg gak berseri. Mungkin karena sejak kecil ia tidak pernah hidup susah. Susah baginya hanya saat tidak ada uang dikantong pribadinya, bukan karena sulitnya mencari makan. Hidup baginya adalah kemudahan, sehingga naluri bertahannya di dunia politik Indonesia yang buas menjadi lemah.

Dan perasaan halusnya diluar sifat temperamental, membuat ia mudah tersentuh. Ia juga mampu mengakui kesalahannya dengan ksatria. Bukan karena ia ksatria, tapi karena ia memang ingin sekali menjadi seorang ksatria dalam hidupnya.

Prabowo adalah prajurit sejati. Kopassus dibawahnya mengalami peningkatan kesejahteraan dan menjadi anak emas, ini yang membuat iri kesatuan TNI AD lainnya sehingga sering ia dikerjai.

Satu hal yang membuat kita harus berterima-kasih kepadanya. Pada saat ia dicopot dari jabatannya, ia tidak memberontak dan mengumpulkan kekuatan yang menjadikan negara ini semakin ricuh seperti yang terjadi di negara-negara Afrika dan timur tengah. Rasa hormat yang sama saya berikan kepada Wiranto yang tidak aji mumpung saat kejatuhan Soeharto

Pertemuannya dengan Jokowi menyentuh sisi halusnya. Ada kesamaan pandangan, dan ia mengakui bahwa Jokowi adalah orang yang mampu mewujudkan pandangannya selama ini. Karena itulah didalam Gerindra sendiri sempat ada wacana mengundang Jokowi menjadi ketua umumnya.

Prabowo hanya salah berteman, itu saja. Orang-orang yang simpati padanya ngeri dengan wajah2 rakus dan ganas dibelakangnya.

Hal paling sederhana sebenarnya mampu terlihat secara kasat mata.

Bagaimana seseorang yang terbiasa sejak kecil hidup dan memamerkan kemewahan mampu berbicara tentang kemiskinan?

Bagaimana seseorang yang mempunyai nafsu yang sangat besar kepada dirinya mampu berbicara tentang mengangkat harkat orang banyak?

Bagaimana seseorang yang sangat emosional mampu memerintah dengan kepala dingin?

Bagaimana seseorang yang selalu berbicara tentang materi mendapatkan sebuah makna?

Bagaimana kesombongan bisa berbicara tentang kerendahan hati?

Bagaimana bisa seseorang yang sebagian besar hidupnya berada di barat berbicara tentang timur?

Prabowo mungkin bukan peminum kopi. Ia terlalu manis untuk sebuah kenikmatan sejati, karena pahit tidak ada dalam kamusnya.