Minggu, 04 November 2018

Prabowo: Tampang Orang Boyolali Bukan Tampang Orang Kaya

Boyolali
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto lahir dalam keluarga "sendok emas".

Ia tidak pernah berada dalam kondisi kesulitan ekonomi. Ayahnya adalah tokoh ekonomi, kakeknya adalah pendiri BNI. Jadi sejak lahir, Prabowo tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya berjuang untuk mendapatkan sedikit kesejahteraan. Ia selalu dalam kondisi kenyang.

Itulah kenapa ketika ia berbicara tentang kemiskinan, ia menjadi gagap. Kemiskinan baginya berada di dunia yang berbeda dengan dunia yang diketahuinya. Prabowo seperti orang yang tidak pernah datang ke Singapura, lalu bicara panjang lebar tentang keindahan kota itu. Bagaimana bisa?

Miskin versi Prabowo berbeda dengan konsep miskin yang diketahui banyak orang. Miskin bagi Prabowo adalah "tidak pernah ke hotel bintang lima" sampai "kecilnya gaji wartawan". Kalau mengikuti konsep miskin versi Prabowo yang punya tanah belasan hektar khusus untuk membangun rumah pribadi, kuda berharga puluhan miliar rupiah, tentu kelas menengah juga dibilangnya miskin.

Dan ketidaktahuan Prabowo tentang kemiskinan ini terlihat jelas dari gesturnya saat berpidato. Ia selalu membandingkan sesuatu dengan dirinya yang kaya raya, sering masuk hotel mewah, bepergian dengan jet pribadi ke mana saja dan mendapat pelayanan bak raja-raja.

Perhatikan pidato Prabowo saat ia berada di hadapan warga Boyolali.

"Sebut aja hotel paling mahal di dunia, ada di Jakarta. Ada Rich Carlton, ada Waldorf Astoria, ngomong aja kalian nggak bisa sebut dan macam-macam itu semua. Dan saya yakin kalian nggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul?"

Di sini saja terlihat Prabowo meremehkan warga Boyolali yang dianggapnya miskin semua. Atau setidaknya kampungan. Ia membandingkan situasi warga Boyolali dengan dirinya yang sering keluar masuk hotel mewah. Buatnya, kalau tidak pernah masuk ke sana, pasti miskin.

Padahal jika Prabowo mau masuk sejenak ke dunia yang berbeda dengannya, ia akan menemukan kebahagiaan warga Boyolali tidak ditentukan oleh seberapa sering dia masuk ke hotel mewah.

Bahkan makan di tengah sawah pun adalah kemewahan yang tidak dapat diungkapkan bahkan oleh seorang Prabowo yang kaya raya. Kenapa? Karena kekayaan versi Prabowo ukurannya adalah harta, sedangkan banyak warga ukurannya adalah ketenteraman jiwa.

Dari sini saja Prabowo sudah salah besar. Apalagi ditambah kalimat berikut ini,

"Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini."

Ini sudah masuk ranah penghinaan. Karena Prabowo seakan menuding tampang orang Boyolali adalah tampang yang tidak pantas berada di hotel mewah dan diusir layaknya gelandangan.

Padahal, tidak ada hukumnya sebuah hotel mewah mengusir orang berdasarkan tampangnya, apakah dia bertampang Boyolali, Cianjur, ataupun Madura. Selain menghina warga Boyolali, Prabowo juga memfitnah hotel bintang lima di Indonesia yang dianggapnya hanya menerima tamu berdasarkan tampangnya.

Dari sini kita bisa melihat, Prabowo gagap berbicara dengan rakyat. Ia cenderung meremehkan dan mengukur dengan materi yang ia dapat. Lalu bagaimana jika kelak ia menjadi Presiden nanti? Bisakah ia berbahasa yang sama dengan rakyat yang akan dipimpinnya nanti? Atau malah ia ingin diperlakukan seperti raja jika kelak ia memimpin nanti?

Hanya secangkir kopi yang bisa menjawabnya, saat Prabowo menjadi Presiden di tahun 2091 nanti.

Seruppputt.

Tagar.id